SEPUTAR INFO PENYAKIT DAN INFO KESEHATAN

 
Tampilkan postingan dengan label Kategori C. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategori C. Tampilkan semua postingan

Infeksi Sitomegalovirus

Infeksi Sitomegalovirus (cytomegalovirus-CMV) yang juga disebut sebagai penyakit kelenjar salivari tergeneralisasi dan penyakit inklusi sitomegalik, disebabkan oleh sitomegalovirus yang merupakan virus asam deoksiribonukleat dan sensitif-eter dan termasuk dalam keluarga herpes. Infeksi Sitomegalovirus muncul diseluruh dunia dan ditularkan melalui kontak manusia. Sekitar empat dari lima orang yang berusia 35 tahun telah terkena Infeksi Sitomegalovirus, biasanya saat masa kanak-kanak atau masa dewasa awal. Disebagian besar orang-orang tersebut, penyakit ini sangat ringan sehingga dipandang remeh. Pasien yang mengalami imunosupresi, terutama yang menjalani transplantasi organ, berpeluang 90% tertular Infeksi Sitomegalovirus.
Resipien transfusi darah dari donor dengan antibodi Infeksi Sitomegalovirus positip beresiko terinfeksi juga. Waspadalah bahwa Infeksi Sitomegalovirus saat hamil bisa membahayakan fetus, karena bisa menyebabkan bayi meninggal sesaat setelah lahir, kerusakan otak, dan kelainan lahir atau menyebabkan penyakit neonatal parah.


Penyakit Infeksi

Penyebab Infeksi Sitomegalovirus

- Kontak dengan sekresi terinfeksi (saliva, urin, semen, air susu ibu, tinja, darah, cairan vaginal, cairan servikal)
- Lahir melalui kanal kelahiran
- Hubungan seksual

Tanda dan Gejala Infeksi Sitomegalovirus

- Mononukleosis sitomegalovirus disertai demam tinggi dan tidak teratur selama 3 minggu atau lebih
Infeksi Sitomegalovirus terdiseminasi, yang bisa menyebabkan korioretinitis (menyebabkan buta), kolitis, atau ensefalitis (pada pasien yang menderita AIDS)
- Pada bayi berusia 3 sampai 6 bulan yang terinfeksi, biasanya asimtomatik atau juga bisa disfungsi hepatik, hepatosplenomegali, angioma laba-laba, pneumonitis, limfadenopati, dan kerusakan otak
- Keluhan ringan dan atau tidak spesifik
- Pneumonia dan infeksi sekunder pada pasien yang mengalami imunodefisiensi dan yang diberi imunosupresan

Uji Diagnostik

- Isolasi virus di urin atau dari saliva, tenggorokan, serviks, sel darah putih, dan spesimen biopsi memastikan diagnosis
- Uji laboratoris lain mendukung diagnosis, meliputi studi fiksasi komplemen, uji antibodi kongenital, uji imunofluoresen tidak langsung untuk antibodi imunoglobulin M CMV.

Tindakan Penanganan

- Karena biasanya Infeksi Sitomegalovirus bersifat self-limiting (bisa sembuh tanpa banyak interfensi), penanganannya ditujukakn untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi
- Pada pasien yang mengalami imunosupresi : acyclovir, ganciclovir, valganciclovir, cidofovir, dan foscarnet dikombinasikan dengan imun globulin anti-CMV untuk peneumonitis dan bisa juga penyakit GI.

Info artikel menarik lain silahkan baca Fibrosis Sistik (Cystic Fibrosis), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Fibrosis Sistik

Fibrosis Sistik yang kadang-kadang disebut dengan mukovisidosis, merupakan penyakit kronis dan disfungsi tergeneralisasi pada kelenjar eksokrin yang menyerang sistem organ multipel. Fibrosis Sistik merupakan penyakit genetik fatal yang paling umum pada anak-anak berkulit putih. Insidensinya paling tinggi pada orang keturunan eropa utara dan paling rendah pada orang kulit hitam, amerika asli, keturunan asia.
Penyebab langsung dari gejala adalah peningkatan viskositas sekresi bronkial, pankreatik, dan kelenjar lendir lain yang menyebabkan obstruksi duktus glandular. 
Fibrosis Sistik mencakup hampir semua kasus defisiensi enzim pankreatik pada anak-anak.


Penyakit Dalam

Penyebab Fibrosis Sistik

- Mutasi (penghapusan yang menyebabkan ketiadaan fenilalanin) dalam gen yang terletak di kromosom 7q.

Tanda dan Gejala Fibrosis Sistik

- Bisa muncul segera setelah lahir atau membutuhkan waktu beberapa tahun untuk berkembang
- Disfungsi kelenjar keringat yang menyebabkan kenaikan kadar natrium dan klorida dalam keringat

Respiratorik

- Respirasi menciut
- Batuk kering, tidak produktif, dan proksismal
- Dispnea
- Takipnea
- Dada seperti tong, sianosis, dan jari tangan dan jari kaki pentol
- Bronkitis dan pneumonia rekuren

Gastrointestinal

- Sering mengeluarkan tinja yang sangat banyak, berbau busuk dan pucat dengan konten lemak yang tinggi
- Berat badan sulit naik, pertumbuhan buruk, nafsu makan sangat besar, distensi abdominal, ekstremitas kurus, dan kulit pucat disertai turgor akibat malabsorpsi
- Sirosis dan hipertensi portal yang bisa menyebabkan varises esofageal, rangkaian hematemesis dan hepatomegali atau keduanya.

Tindakan Penanganan

- Untuk melawan keluarnya elektrolit bersama keringat, beri banyak garam pada makanan dan saat cuaca panas, suplemen natrium
- Untuk mengatasi defisiensi enzim pankreatik, beri enzim pankreatik oral dengan makanan.
Makanan sebaiknya rendah lemak namun kaya protein dan kalori, dan mengandung suplemen vitamin yang bisa bercampur dengan air dan larut dalam lemak (A,D,E,K).
- Manajemen disfungsi pulmoner meliputi : fisioterapi dada, drainase postural, dan latihan bernapas; katup debar bisa digunakan dalam beberapa kasus.

Info artikel menarik lain silahkan baca Sindrom Cushing (Cushing's Syndrome), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Sindrom Cushing

Sindrom Cushing bercirikan klaster keabnormalan klinis yang disebabkan oleh tingginya kadar hormon adrenokortikal (terutama kortisol) atau kortikosteroid berkaitan dan dalam tingkat yang lebih rendah, androgen dan alderosteron. Tandanya meliputi adipositas wajah (wajah bulan), leher dan batang tubuh dan satria ungu di kulit. Sindrom Cushing paling sering menyerang wanita. Prognosisnya tergantung pada penyebab mendasar; prognosisnya buruk jika dialami pada penderita yang tidak ditangani dan penderita karsinoma penghasil kortikotropin ektopik yang tidak bisa ditangani.


Penyakit Sindrom

Penyebab Sindrom Cushing

- Tumor adrenal pensekresi-kortisol (sekitar 30% pasien, biasanya jinak)
- Produksi kortikotropin berlebihan, yang menyebabkan hiperplasia korteks adrenal (sekitar 70% pasien) akibat hipersekresi pituitari (penyakit cushing), tumor tumor penghasil-kortikotropin di organ lain (terutama karsinoma bronkogenik atau pankreatik) atau pemberian glukokortikoid eksogenosa berlebihan
- Pada bayi : adenoma atau karsinoma adrenal

Tanda dan Gejala Sindrom Cushing

- Kardiovaskular : hipertensi akibat retensi natrium dan air, hipertrofi ventrikular kiri, pelemahan kapiler akibat kehilangan protein yang menyebabkan pendarahan dan ekomosis
- Sistem saraf pusat (central nervous system-CNS) : iritabilitas dan kelabilan emosional (berkisar dari perilaku euforia sampai depresi atau psikosis), insomnia
- Endokrin dan metabolik : diabetes melitus disertai toleransi glukosa turun, hiperglikemia puasa, dan glikosuria
- GI : ulser peptik akibat sekresi gastrik dan produksi pepsin meningkat dan mukus gastrik berkurang
- Muskuloskeletal : pelemahan otot akibat hipokalemia, masa otot hilang akibat katabolisme meningkat, fraktur patologis akibat mineral tulang berkurang, dan retardasi pertumbuhan skeletal pada anak-anak
- Renal dan urologis : retensi natrium dan cairan sekunder, sekresi kalium meningkat, sekresi hormon antidiuretik terhambat, kalkulus ureteral akibat demineralisasi tulang meningkat karena hiperkalsiuria
- Reproduktif : produksi androgen meningkat disertai hipertrofi klitoral, virilisme ringan, dan amenorea atau oligomenorea pada wanita; disfungsi seksual
- Kulit : akne, satria keunguan, ada sedikit atau tidak ada pembentukan parut, penyembuhan luka buruk, dipunggung atas (punuk kerbau), di wajah (wajah bulan).

Uji Diagnostik

- Kadar kortisol tidak berfluktuasi dan tetap naik secara konsisten; sampel urin 24 jam menunjukkan kenaikan kadar kortisol
- Uji supresi dexamethasone dosis tinggi membedakan disfungsi pituitari (penyakit cushing) dengan adenoma kelenjar adrenal atau sekresi kortikotropin ektopik
- USG, CT-Scan, MRI, atau angiografi menunjukkan tempat tumor adrenal; CT scan dan MRI pada kepala mengidentifikasi tumor pituitari.

Tindakan Penanganan

Sindrom Cushing dependen-pituitari yang disertai hipoplasia adrenal dan gejala cushingoid parah bisa membutuhkan hipofisektomi atau iradiasi pituitari
- jika pasien gagal merespons, adrenalektomi bilateral bisa dilakukan
- Tumor penghasil-kortikotropin non endokrin membutuhkan eksisi tumor, dan diikuti terapi obat (misalnya dengan mitotane, metyrapone, atau aminogluthimide) untuk menurunkan kadar kortisol jika gejala tetap ada.

Info artikel menarik lain silahkan baca Kriptokokosis (Cryptococcosis), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Kriptokokosis

Fungus terbawa udara cryptococcus neoformans sehingga menyebabkan Kriptokokosis, yang juga disebut torulosis dan blastomikosis eropa. Biasanya Kriptokokosis mulai muncul sebagai infeksi pulmoner simtomatik tetapi menyebar keluar dari paru-paru tidak hanya ke sistem saraf pusat (central nervous system-CNS) tetapi juga ke kulit, tulang, kelenjar prostat, hati dan ginjal. Prevalensinya paling tinggi pada pria dan jarang dialami anak-anak. Kriptokokosis juga bisa berkembang pada pasien yang mengalami gangguan imun, misalnya penderita penyakit hodgkin, sarkoidosis, leukemia, atau limfoma dan pasien yang diberi agens imunosupresif.
Sampai sekarang pasien yang mengalami infeksi HIV stadium lanjut merupakan kelompok yang sering diserang. Prognosis kriptokokosis pulmoner baik jika penanganannya sesuai. Akan tetapi infeksi CNS bisa fatal, tetapi penanganan bisa mengurangi mortalitas secara dramatis. Komplikasinya meliputi atrofi otot, ataksia, hidrosefalus, tuli, paralisis, sindrom otak kronis, dan perubahan kepribadian.


Penyakit Infeksi

Penyebab Kriptokokosis
- Penularan melalui inhalasi C.neoformans di partikel debu yang terkontaminasi oleh tinja burung dara yang mengandung organisme tersebut.

Tanda dan Gejala Kriptokokosis
- Jika tulang terlibat : lesi oseosa menyakitkan di tulang panjang, tengkorak, tulang belakang, dan sendi
- Jika CNS terlibat secara bertahap : sakit kepala frontal dan temporal yang semakin parah, diplopia, pandangan kabur, pusing, ataksia, afasia, muntah, tinitus, perubahan memori, perilaku tidak sesuai, iritabilitas, gejala psikotik, sawan, demam, koma, dan kematian
- Jika kulit terlibat : papula fasial merah dan abses kulit lain dengan atau tanpa ulserasi

Uji Diagnostik
- Sinar-X dada rutin menunjukkan lesi pulmoner bisa menunjukkan Kriptokokosis pulmoner.
- Identifikasi C.neoformans didapat melalui kultur sputum, urin, sekresi prostatik, aspirasi atau biopsi sumsum tulang, biopsi pleural atau sediaan tinta india dan kultur cairan serebospinal (cerebrospinal fluid-CSF)
- Kultur darah hanya positip jika terjadi infeksi parah
- Kenaikan titer antigen dalam serum dan CNS merupakan hasil diagnostik dalam infeksi terdiseminasi
- Kenaikan tekanan CSF, protein dan jumlah sel darah putih juga mengindikasi infeksi CNS
- Sekitar 50% pasien menunjukkan kadar glukosa CSF agak menurun

Tindakan Penanganan
- Infeksi terdiseminasi ditangani dengan amphotericin B atau fluconazole I.V
- Pasien AIDS juga memerlukan terapi jangka panjang
- Rangkaian penanganan tunggal dan intensif diberikan sampai kultur dari tempat terinfeksi menunjukkan hasil negatif.

Info artikel menarik lain silahkan baca Penyakit Croup, sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Croup

Croup merupakan inflamasi dan obstruksi berat di jalan napas atas dan bisa muncul sebagai laringotrakeobronkitis (paling umum), laringitis, dan laringitis spasmodik akut. Croup harus selalu dibedakan dari epiglotitis. Croup merupakan penyakit masa kanak-kanak yang lebih sering menyerang anak lelaki daripada perempuan (biasanya antara usia 3 bulan sampai 3 tahun) dan biasanya muncul saat musim dingin. Pasien biasanya muncul saat musim dingin. Pasien biasanya sembuh total.

Penyebab Croup
- Adenovirus, virus sinsisial respiratorik (Respiratory syncitial virus-RSV), influenza dan virus campak
- Bakteri (pertusis dan difteria)
- Infeksi virus (virus parainfluenza dalam dua-pertiga kasus)


Penyakit Pernapasan

Tanda dan Gejala Croup

- Infeksi traktus respiratorik atas
- Stridor inspiratorik
- Suara parau atau bunyi vokal seperti terhalang sesuatu sehingga tidak terdengar jelas
- Obstruksi laringeal dan distres repiratorik
- Batuk tajam dan seperti membentak

Laringotrakeobronkitis

- Memburuk di malam hari
- Inflamasi yang menyebabkan edema bronki dan bronkiola dan kesulitan ekspirasi yang semakin parah
- Demam
- Bunyi napas berkurang secara terdifusi, ronki ekspiratorik dan dedas terpencar

Laringitis

- Biasanya ringan; tidak menyebabkan distres respiratorik kecuali pada bayi
- Sakit tenggorokan dan batuk yang bisa berkembang menjadi suara parau
- Retraksi suprasternal dan interkostal
- Stridor inspiratorik
- Dispnea
- Bunyi napas berkurang
- Gelisah
- Di stadium lanjutan : dispnea dan letih parah

Laringitis Spasmodik Akut

- Awalnya suara parau ringan sampai sedang dan keluaran nasal
- Batuk yang khas dan inspirasi kencang (yang biasanya bisa membuat anak terbangun di malam hari)
- Bernapas dengan bersusah payah dan disertai retraksi
- Denyut nadi cepat dan kulit lembab
- Keresahan yang menyebabkan dispnea yang semakin parah dan sianosis selintas
- Gejala parah yang awalnya mereda setelah beberapa jam namun kembali muncul dalam bentuk yang lebih ringan di satu atau dua malam berikutnya.

Uji Diagnostik

- Infeksi bakteri di identifikasi oleh kultur tenggorokan
- Sinar-X leher bisa menunjukkan area penyempitan jalan napas atas edema di lipatan subglotis
- Laringoskopi bisa memperlihatkan inflamasi dan obstruksi di area epiglottal dan laringeal
- Kultur darah bisa membedakan infeksi bakteri dengan infeksi virus.

Tindakan Penanganan

- Beri kelambaban dingin saat pasien tidur
- Beri antipiretik, misalnya asetaminofen
- Pasien yang mengalami distres respiratorik yang menunggu hidrasi oral harus dirawat inap dan membutuhkan penggantian cairan untuk mencegah dehidrasi
- Terapi antibiotik diperlukan untuk infeksi bakteri
- Terapi oksigen juga bisa dibutuhkan
- Epinefrin rasemik bisa meringankan stridor untuk sementara waktu, sedangkan glukokortikoid yang dinebulasi atau parental memberi keringanan di banyak kasus.

Info artikel menarik lain silahkan baca Penyakit Crohn (Crohn's Disease), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi Dwww.duniaalatkedokteran.com.

Penyakit Crohn

Penyakit Crohn (Crohn's Disease) merupakan inflamasi di traktus alimentari dan ditandai dengan eksaserbasi dan remisi. Saat penyakit berkembang, ulser dalam fisura meluas ke dalam lapisan dinding otot sehingga memberi tampilan "batu-batu kecil" yang khas. Rintangan lateral menyebabkan edema, inflamasi mukosal, ulserasi, proses striktur, dan pembentukan fistula dan abses. Penderita bisa mengalami gangguan absorpsi dan obstruksi usus kecil. Penyakit Crohn bisa menyebabkan obstruksi intestinal, pembentukan fistula antara usus kecil dan kandung kemih, abses dan fistula perianal dan perirektal dan perforasi.
Penyakit Crohn bisa menyerang bagian manapun di traktus dari mulut ke anus; 50% kasus melibatkan kolon dan usus kecil; 33% melibatkan ileum terminal, sedangkan 10% sampai 20% hanya melibatkan kolon. Penyakit Crohn bisa meluas melalui semua lapisan dinding intestinal dan juga bisa melibatkan nodus limfa regional dan mesenteri. Penyakit Crohn muncul pada pria maupun wanita dan lebih sering menyerang keturunan yahudi. Penyakit Crohn biasanya menyerang sebelum usia 30 tahun.


Penyakit Pencernaan

Penyebab Penyakit Crohn

- Alergi
- Genetik
- Gangguan imun
- Infeksi (organisme penyebabnya tidak diketahui
- Obstruksi limfatik

Tanda dan Gejala Penyakit Crohn

Penyakit Crohn Akut
- Pendarahan
- Tinja berdarah
- Diare
- Demam
- Flatulensi
- Mual
- Nyeri berat dan terus menerus di kuadran kanan bawah; kram; perih

Penyakit Crohn Kronis

- Distensi dan nyeri kram di abdomen
- Letih, lemah
- Fistula dari kolon sampai usus kecil : diare, berat badan turun, dan malnutrisi
- Fistula : asimtomatik atau disertai demam, menggigil, abdomen perih, dan leukositosis
- Demam tingkat rendah
- Diare intermitten dan tidak berdarah disertai nyeri periumbilikal atau di kuadran kanan bawah
- Berat badan turun

Uji Diagnostik

- Rangkaian GI atas dengan lanjutan usus kecil bisa menunjukkan ulserasi, striktur, dan fistula
- Barium enema yang menunjukkan tanda bersambungan (segmen striktur yang dipisahkan oleh usus normal) mendukung diagnosis
- Sigmoidoskopi fleksibel dan kolonoskopi bisa menunjukkan area inflamasi, ulser, striktur, dan granuloma berpetak
- Temuan laboratoris biasanya mengindikasikan kenaikan jumlah sel darah putih dan tingkat sedimentasi elektrolit, hipokalemia, hipokalsemia, hipomagnesemia, dan penurunan kadar hemoglobin (Hb).

Tindakan Penanganan

- Tidak ada pengobatan bagi Penyakit Crohn; penanganannya ditujukan untuk mengembalikan dan mempertahankan usus dan status nutrisional
- Hiperalimentasi juga bisa digunakan untuk mempertahankan nutrisi saat mengistirahatkan usus
- Kurangi aktivitas fisik untuk membantu mengistirahatkan usus dan memberinya waktu untuk sembuh.

Info artikel menarik lain silahkan baca Penyakit Creutzfeldt-Jakob (Creutzfeldt-Jakob Disease - CJD), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Penyakit Creutzfeldt-Jakob

               Penyakit Creutzfeldt-Jakob (Creutzfeldt-Jakob Disease-CJD) merupakan penyakit viral langka dan berkembang cepat yang menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan demensia dan tanda gejal neurologis, misalnya sentakan mioklonik, ataksia, afasia, gangguan visual, dan paralisis. Penyakit Creutzfeldt-Jakob umumnya menyerang orang dewasa berusia 40 sampai 65 tahun dan muncul di lebih dari 50 negara. Penyakit Creutzfeldt-Jakob menyerang pria sama banyaknya dengan wanita. Variansi baru Penyakit Creutzfeldt-Jakob yang muncul di eropa pada 1996 dan diyakini berkaitan dengan ensefalopati spongiforme sapi, yaitu penyakit fatal pada ternak dan juga dikenal sebagai penyakit sapi gila.


Penyakit Otak

Penyebab Penyakit Creutzfeldt-Jakob

- Protein spesifik yang disebut prion yang kekurangan asam nukleat, menolak pencernaan proteolitik dan teragregasi secara spontan di otak
- Hubungan familial pada 5% sampai 15% pasien, dengan pola inheritansi dominan autosomal
- Penularan manusia ke manusia dengan prosedur medis, misalnya graf kornea dan dura mater kadaverik
- Jarang terjadi : pengobatan saat masa kanak-kanak dengan hormon pertumbuhan manusia dan dengan peralatan bedah saraf yang terkontaminasi dengan tidak sebagaimana mestinya dan elektroda otak.

Tanda dan Gejala Penyakit Creutzfeldt-Jakob

- Awalnya dementia progresif
- Awalnya : berpikir lambat, sulit konsentrasi, gangguan penilaian dan hilang ingatan
- Halusinasi
- Jika disertai perkembangan dan deteriorasi mental : gangguan penglihatan dan gerakan involunter, misalnya kejang dan getaran otot

Uji Diagnostik

- Pemeriksaan neurologis merupakan alat yang paling efektif dalam mendiagnosis Penyakit Creutzfeldt-Jakob. Kesulitan dalam gerakan yang bergantian cepat dan gerakan titik ke titik merupakan ciri khas saat penyakit masuk stadium awal
- Elektroensefalogram bisa dilakukan untuk mengkaji pasien sehingga perubahan khas dalam aktivitas gelombang otak bisa terlihat
- CT-Scan, MRI dan lumbar pungsi bisa berguna dalam menyingkirkan gangguan lain yang menyebabkan demensia
- Diagnosis yang tepat dipastikan dengan autopsi saat jaringan otak diperiksa

Tindakan Penanganan

- Tidak ada pengobatan untuk Penyakit Creutzfeldt-Jakob, dan perkembangannya tidak bisa diperlambat. Perawatan paliatif diberikan untuk membuat pasien nyaman dan untuk meringankan gejala.

Info artikel menarik lain silahkan baca Kor Pulmonale (Cor Pulmonale), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

-----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk info peluang usaha masakan Jepang Okonomiyaki & Takoyaki pelajari infonya DISINI.

Kor Pulmonale

WHO mendefinisikan Kor Pulmonale Kroni (Cor Pulmonale) sebagai hipertrofi ventrikel kiri yang disebabkan oleh penyakit yang menyerang fungsi dan struktus paru-paru, kecuali jika perubahan pulmoner ini merupakan akibat dari penyakit yang menyerang terutama sisi kiri jantung atau dari penyakit jantung kongenital. 
Kor Pulmonale mengikuti gangguan paru-paru, pembuluh pulmoner, dinding dada, atau pusat kontrol respiratorik. Karena kor pulmonale biasanya muncul saat rangkaian penyakit pulmoner obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary disease-COPD) dan penyakit tidak reversibel lainnya memasuki tahap atas prognosisnya biasanya buruk. Sekitar 85% penderita Kor Pulmonale juga menderita COPD dan 25% penderita COPD akhirnya menderita Kor Pulmonale. Banyak pasien bisa hidup selama lebih dari 10 sampai 15 tahun setelah didiagnosis, tetapi lama kelamaan mereka semakin mengalami ketidakmampuan.


Penyakit Dalam

Penyebab Kor Pulmonale

- Bronkiektasis dan fibrosis sistik
- COPD
- Tinggal diketinggian (penyakit pegunungan kronis)
- Hilangnya jaringan paru-paru akibat pembedahan paru-paru ekstensif
- Sindrom hipoventilasi obesitas (sindrom pickwickian) dan obstruksi jalan napas atas
- Penyakit vaskular pulmoner : tromboembolisme rekuren, hipertensi pulmoner primer, sistosomasis, dan vaskulitis pulmoner
- Insufisiensi respiratorik tanpa disertai penyakit pulmoner : kifoskoliosis, inkompetensi neurosmuskular yang disebabkan oleh distrofi muskular atau sklerosis lateral amiotrofik, polimiositis, dan lesi jaringan saraf tulang belakang di atas C6
- Penyakit paru-paru restriktif : pneumokoniosis, pneumonitis interstisial, skleroderma, dan sarkoidosis

Tanda dan Gejala Kor Pulmonale

- Batuk produktif kronis, dispnea saat mengerahkan tenaga, respirasi dengan bunyi menciut, letih dan lemah
Kor Pulmonale dan gagal jantung sisi kanan : edema dependen, distensi vena leher, impuls, parasternal atau kardiak epigastrik menonjol, refluks hepatojugular, takikardia, dan hati membesar dan melunak
- Rasa kantuk dan perubahan tingkat kesadaran
- Penyakit progresif : dispnea yang diperburuk saat mengerahkan tenaga, takikardia, ortopnea, edema, lemah, dan ketidaknyamanan di kuadran kanan atas
- Desir awal ventrikular kanan yang meningkat saat inspirasi
- Bunyi klik saat terjadi ejeksi pulmonik sistolik
- Insufisiensi trikuspid : desir parasistolik di batas sternal kiri bawah yang disertai peningkatan intensitas saat inspirasi
- Denyut nadi lemah dan hipotensi yang disertai berkurangnya output kardiak

Uji Diagnostik

- Pengukuran tekanan arteri pulmoner (pulmonary artery pressure-PAP) menunjukkan kenaikan tekanan ventrikular kanan dan PAP (tekanan sistolik akan melebihi 30 mm Hg; tekanan diastolik arteri pulmoner akan melebihi 15 mm Hg
- Ekokardiografi atau angiografi mengindikasikan pembesaran ventrikular kanan, dan ekokardiografi bisa mengestimasi PAP
- Sinar-X dada menunjukkan besarnya arteri pulmoner pusat dan pembesaran ventrikular kanan oleh pembesaran siluet kardiak ke kanan di film dada anterior
- Analisis gas darah arterial (arterial blood gas-ABG) menunjukkan penurunan tekanan oksigen arterial parsial (Pa02) kurang dari 70 mm Hg
- Elektrokardiografi sering menunjukkan aritmia, misalnya konstraksi atrial dan ventrikular prematur dan fibrilasi atrial saat hipoksia parah; rintangan jantung cabang ikat kanan, deviasi aksis kanan, gelombang P yang menonjol dan gelombang T yang terintervensi di lead prekordial kanan, dan hipertrofi ventrikular kanan
Uji fungsi pulmoner menunjukkan hasil yang konsisten jika disebabkan oleh penyakit pulmoner.

Info artikel menarik lain silahkan baca Arteri Koroner (Coronary Artery Disease), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Arteri Koroner (Penyakit Jantung Koroner)

Efek dominan dari penyakit Arteri Koroner (Coronary Artery Disease) adalah hilangnya oksigen dan nutrien menuju jaringan miokardial karena berkurangnya aliran darah koroner. Penyakit Arteri Koroner (Penyakit Jantung Koroner)  hampir merupakan epidemik di dunia ketiga. Arteri Koroner (Penyakit Jantung Koroner) lebih sering muncul pada pria, pada orang berkulit putih dan pada orang berusia menengah dan lanjut. Pembentukan plak merupakan predisposisi trombosis yang bisa memicu Infarksi miokardial (MI).


Penyakit Dalam

Penyebab Arteri Koroner (Penyakit Jantung Koroner)

- Spasma arteri koroner
- Penyempitan lumen arteri koroner akibat aterosklerosis, yang menyebabkan iskemia miokardial karena berkurangnya aliran darah
- Faktor resiko : riwayat keluarga, hipertensi, obesitas, merokok, diabetes melitus, stress, kegiatan yang mengharuskan duduk atau tidak bergerak dalam waktu lama, dan kadar kolesterol dan trigliserida serum tinggi
- Penyebab yang tidak umum : aneurisma diseksi, vaskulitis menular, sifilis, dan kelainan kongenital dalam sistem vaskular koroner.

Tanda Dan Gejala Arteri Koroner (Penyakit Jantung Koroner)

- Gejala klasik : angina-rasa terbakar, terperas, atau kencang di dada substernal atau prekordial, yang bisa memancar ke lengan kiri, leher, rahang, atau tulang belikat (shoulder blade) dan secara khas muncul jika pasien mengerahkan tenaga fisik, emosi meluap-luap, terpapar dingin, atau makan dalam jumlah besar
- Angina stabil : frekuensi dan durasinya bisa diprediksi, reda dengan nitrat dan beristirahat
- Angina tidak stabil : frekuensi dan durasinya meningkat; lebih mudah dipicu
- Angina prinzmetal : spasma arteri koroner yang tidak bisa diprediksi disertai aritmia dan gagal mekanis yang berpotensi fatal. Selain itu sekitar 50% wanita tidak mengalami gejala angina yang khas. Wanita-wanita tersebut mengalami gejala samar, misalnya letih,k sesak napas, nyeri abdominal, mual, muntah

Tanda Gejala lainnya :

- Mual, muntah
- Pingsan
- Berkeringat
- Ekstremitas dingin

Uji Diagnostik

Riwayat pasien sangat penting untuk mengevaluasi Arteri Koroner (Penyakit Jantung Koroner). Tindakan diagnostik tambahan meliputi :
- Elektrokardiografi saat angina bisa menunjukkan iskemia atau normal; uji ini juga bisa menunjukkan aritmia. Alat ECG cenderung normal saat pasien bebas dari rasa nyeri.
- Uji latihan treadmill atau bersepeda bisa memicu nyeri dada dan tanda ECG dari iskemia miokardial (depresi segmen-ST)
- Angiografi koroner memperlihatkan penyempitan atau oklusi arteri koroner, dengan sirkulasi kolateral yang mungkin
- Pencitraan perfusi miokardial dengan thallium-201 atau cardiolite saat latihan treadmill mendeteksi area iskemik di miokardium yang di visualisasikan sebagai "titik-titik dingin".

Tindakan Penanganan

- Pengurangan permintaan oksigen miokardial bisa dibantu dengan nitrat, misalnya nitrogliserin, isosorbide dinitrat, perintang beta-adrenergik (diberikan secara oral), atau perintang saluran kalsium (diberikan secara oral)
- Inhibitor glikoprotein IIb-IIIa, misalnya adciximab, eptifibatide, atau tirofiban, bisa digunakan untuk mengurangi resiko penggumpalan darah
- Lesi obstruktif bisa memerlukan coronary artery bypass grafting (CABG). Pembedahan keyhole merupakan pembedahan bypass arteri koroner yang paling tidak invasif dan bisa dilakukan pada pasien yang berhak menjalaninya sebagai alternatif pembedahan CABG tradisional
- Angioplasty bisa dilakukan saat katerisasi kardiak untuk menekan endapan berlemak dan meringankan oklusi
- Angioplasti koroner transluminal perkutaneus bisa dilakukan dalam kombinasi dengan pemasangan stent koroner untuk menyediakan kerangka agar arteri tetap terbuka
- Angiogenesis melalui terapi berbahan dasar protein dengan faktor pertumbuhan fibroblastic dan faktor pertumbuhan endotelial vaskular bisa digunakan untuk meningkatkan perfusi pada pasien yang terpilih

Tindakan Preventif

- Batasan diet bisa meliputi asupan kalori (pada pasien obesitas), lemak dalam makanan, dan kolesterol
- Menjalani program latihan teratur bisa bermanfaat
- Berhenti merokok dan mengurangi stres
- Hipertensi sebaiknya dikontrol dengan agens perintang simpatetik, misalnya methyldopa dan propranolol atau diuretik misalnya hydrochlorothiazide
- Kadar kolesterol dan trigliserida serum sebaiknya dikontrol dengan antilipemik
- Aspirin bisa meminimalkan agregasi keping darah dan bahaya penggumpalan darah.

Info artikel menarik lain silahkan baca Ulser Kornea (Corneal Ulcers), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Ulser Kornea

Ulser Kornea (Corneal Ulcers) merupakan penyebab utama dari kebutaan di penjuru dunia dan menyebabkan parut atau perforasi kornea. Ulser Kornea ini muncul di area pusat atau marjin kornea, bervariasi menurut bentuk dan ukuran, dan bisa tunggal maupun multipel. Ulser marjinal merupakan bentuk paling umum dan disebabkan oleh sensitivitas terhadap Sthaphylococcus aureus. Penanganan yang cepat dan tepat (dalam beberapa jam setelah diserang) bisa mencegah kerusakan visual.


Penyakit Mata

Penyebab Ulser Kornea (Corneal Ulcers)

- Alergen
- Bakterial : sthaphylococcus aureus, pseudomonas aeruginosa, streptococcus viridans, streptococcus (diplococcus) pneumoniae, dan moraxella liquefaciens
- Fungal : Candida, fusarium dan cephalosporium
- Ulser neurotropik yang disertai lesi saraf kranial kelima
- Reaksi terhadap infeksi bakteri
- Trauma, paparan dan toksin
- Tuberkuloprotein : keratokonjungtivitis fliktenular klasik
- Viral : herpes rimplex tipe 1 dan virus verisela-zoster
- Xeroftalmia akibat defisiensi vitamin A

Tanda dan Gejala Ulser Kornea (Corneal Ulcers)

- Nyeri (memburuk saat berkedip) dan fotophobia yang disertai keluarnya air mata yang semakin banyak
- Kekaburan visual parah jika terjadi ulserasi kornea pusat
- Keluaran purulen jika terjadi ulser bakterial
- Mata yang diserang berwarna merah

Uji Diagnostik

- Pemeriksaan senter memperlihatkan permukaan kornea yang tidak teratur, eksudat di kornea, dan hipopion (akumulasi sel putih di bilik anterior) yang muncul dalam bentuk bulan separuh
- Pewarnaan fluoresen yang di instilasikan di sakus konjungtival, menunjukkan penampakan ulser
- Pengujian kultur dan sensitivitas pengerikan kornea mengidentifikasi organisme penyebab

Tindakan Penanganan

- Penanganan awal terdiri dari antibiotik spektrum-luas topikal sampai agens penyebab bisa di identifikasi
- Infeksi p.aeruginosa ditangani dengan ciprofloxacin topikal, gentamicin, atau tobramycin
- Virus herpes simplex tipe 1 ditangani dengan idoxuridine, vidarabine, atau trifluridine topikal yang diberikan setiap jam
- Tetes mata sikloplegis diberikan untuk mengurangi spasma tubuh silier
- Hipovitaminosis A membutuhkan koreksi defisiensi vitamin A dalam makanan atau absorpsi vitamin A oleh traktus GI
- Ulser neurotopik atau keratitis paparan ditangani dengan sering melakukan instilasi air mata artifisial atau salep pelumas dan penggunaan pelindung mata gelembung plastik atau dengan tarsorafi (melakukan sutura pada kelopak mata bersama-sama).

Info artikel menarik lain silahkan baca Abrasi Kornea (Corneal Abrasion), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Abrasi Kornea

Abrasi Kornea (Corneal Abrasion) umumnya disebabkan oleh benda asing dan merupakan goresan di epitelium permukaan kornea. Abrasi atau adanya benda asing di mata merupakan cedera mata yang paling umum. Jika ditangani prognosisnya biasanya baik. Goresan kornea yang ditimbulkan oleh kuku jari tangan, secarik kertas, atau substansi organik lain bisa menyebabkan lesi persisten. Epitelium tidak selalu sembuh dengan baik, dan pasien bisa mengalami erosi kornea rekuren disertai efek terlambat yang lebih parah daripada cedera awal.


Penyakit Mata

Penyebab Abrasi Kornea (Corneal Abrasion)

- Tertidur ketika masih menggunakan lensa kontak
- Benda asing, misalnya abu api atau debu, kotoran atau pasir halus yang melekat dibawah kelopak mata

Tanda dan Gejala Abrasi Kornea (Corneal Abrasion)

- Nyeri yang tidak sebanding dengan ukuran cedera
- Warna merah, air mata yang bertambah banyak
- Perubahan akuitas visual, tergantung pada ukuran dan lokasi cedera

Uji Diagnostik

- Pewarnaan kornea dengan luoresen memastikan diagnosis. Area cedera tampak hijau saat diperiksa dengan lampu wod atau black light (cahaya yang tidak bisa dilihat
- Pemeriksaan lampu celah menunjukkan kedalaman abrasi
- Pemeriksaan mata dengan lampu senter bisa memperlihatkan benda asing dikornea; kelopak mata harus dibalikkan ke arah luar untuk melihat benda asing yang melekat dibawahnya. Sebelum memulai penanganan uji untuk menentukan akuitas visual memberikan dasar medis dan perlindungan yang sah

Tindakan Penanganan

- Jika benda asing bisa dilihat, mata bisa di irigasi dengan larutan garam normal
- Benda asing yang melekat dalam dibuang dengan spud (sejenis pisau tumpul) khusus benda asing, menggunakan anestetik lokal
- Cincin karat di kornea harus dibuang saat pemeriksaan lampu-celah dengan burr (sejenis pemotong) oftalmik, setelah menggunakan anestetik topikal. Jika hanya bisa dilakukan pembuangan parsial, epitelialisasi kembali bisa mengangkat cincin ke permukaan lagi dan memungkinkan pembuangan menyeluruh di hari berikutnya
- Tetes mata sikloplegis dan tetes mata antibiotik spektrum-luas di instilasikan di mata yang diserang tiap 3 sampai 4 jam.

Info artikel menarik lain silahkan baca Konjungtivitis (Conjunctivitis), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Konjungtivitis

Konjungtivitis (Conjunctivitis) atau inflamasi konjungtiva disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, alergi atau reaksi zat kimiawi. Konjungtivitis bakterial atau viral sangat menular tetapi menjadi self-limiting (bisa sembuh tanpa banyak intervensi) setelah 2 minggu. Konjungtivitis kronis bisa mengakibatkan perubahan degeneratif pada kelopak mata.


Penyakit Mata

Penyebab Konjungtivitis

- Reaksi alergis terhadap serbuk sari, rumput, medikasi topikal, polutan udara dan asap
- Bakterial : staphylococcus aureus, streptococcus pneumoniae, neisseria gonorrhorae, dan neisseria meningitidis
- Klamidial : chlamydia trachomatis (Konjungtivitis inklusi)
- Idiopatik : menyertai eritema multiforme, Konjungtivitis folikular kronis (Konjungtivitis yatim piatu), penyakit tiroid, dan sindrom steven-johnson
- Iritan okupasional (asam dan alkali)
- Penyakit riketsial (demam bernintik pegunungan rocky); penyakit parasistik yang disebabkan oleh phtirus pubis dan schistosoma haematobium, dan infeksi fungus
- Mengikuti (sekunder) dakriosistitis pneumokokal atau kanalikulitis akibat infeksi kandida
Konjungtivitis vernal (Konjungtivitis musiman atau musim hangat) : alergi terhadap alergen yang tidak teridentifikasi (misalnya rumput atau serbuk sari)
- Viral : adenovirus tipe 3, 7 dan 8; herpes simplex virus tipe 1

Tanda dan Gejala Konjungtivitis

- Hiperemia konjungtiva, kadang-kadang disertai keluaran air mata
- Serangan pada satu mata dan menyebar dengan cepat ke mata yang lain melalui kontaminasi
- Nyeri dan fotofobia jika melibatkan kornea
- Penglihatan tidak terpengaruh jika tidak melibatkan kornea

Bentuk Bakterial Akut

- Kerak keluaran yang lengket dan mukopurulen (disebabkan N.gonorrhoeae)
- Gatal, rasa terbakar, dan sensasi adanya benda asing di dalam mata

Bentuk Viral

- Air mata yang sangat banyak dengan eksudat minimal
- Pembesaran nodus limfa preaurikular
- Bentuk kronis membuat penderita sangat lemah

Uji Diagnostik

- Pemeriksaan fisik memperlihatkan injeksi pembuluh konjungtival bulbar. Pada anak-anak, tanda dan gejala sistemik bisa meliputi sakit tenggorokan dan demam
- Monosit merupakan yang utama dalam uji pulasan berwarna pada kerikan konjungtival jika konjungtivitis disebabkan virus
- Sel polimorfonuklear (neutrofil) adalah hal utama jika Konjungtivitis disebabkan bakteri
- Uji kultur dan sensitivitas membantu mengidentifikasi organisme bakterial yang menyebabkan dan mengindikasi terapi antibiotik yang tepat

Tindakan Penanganan

Konjungtivitis bakterial membutuhkan antibiotik atau sulfonamide topikal yang tepat
- Jika agen penyebab adalah N.gonorrhoeae, ceftriaxone I.M.dosis tunggal biasanya diberikan. Jika kornea terlibat, pasien membutuhkan rangkaian obat tersebut selama 5 hari
- Walaupun Konjungtivitis viral kebal terhadap penanganan, tetes mata antibiotik spektrum luas bisa mencegah infeksi sekunder
- Infeksi herpes simplex ditangani dengan salep vidarabine atau acyclovir oral, tetapi infeksi bisa bertahan selama 2 sampai 3 minggu
- Penanganan Konjungtivitis  vernal (alergis) meliputi pemberian tetesan kortikosteroid yang diikuti ketorolac tromethamine (anti-inflamatorik oftalmik), kompres dingin untuk meringankan gatal dan kadang-kadang antihistamin oral.

Info artikel menarik lain silahkan baca Gegar Otak (Concussion), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gegar Otak

Gegar Otak (Concussion) merupakan cedera ringan paling umum yang disebabkan oleh cedera akselerasi-deselerasi atau pukulan terhadap kepala yang cukup kuat untuk mendesak otak dan membuatnya menabrak tengkorak (menyebabkan disfungsi neural temporer), tetapi belum cukup kuat untuk menyebabkan kontusi serebral. Sebagian besar korban Gegar Otak (Concussion) sembuh total dalam waktu 48 jam. Akan tetapi, gegar otak berulang-ulang akan mengakibatkan kerusakan kumulatif di otak.


Penyakit Otak

Penyebab Gegar Otak (Concussion)

- Akibat tindakan kekerasan
- Pukulan mendadak dan kuat (misalnya jatuh, kecelakaan)

Tanda Dan Gejala Gegar Otak (Concussion)

- Amnesia anterograd atau retrograd
- Keterlambatan letargi atau rasa kantuk
- Pusing
- Iritabilitas, letargi, atau perilaku yang bukan karakter penderita
- Mual, muntah
- Sakit kepala parah
- Hilang kesadaran jangka pendek
- Sindrom setelah Gegar Otak (Concussion) : sakit kepala, pusing, vertigo, resah, dan letih yang terus ada selama beberapa minggu setelah cedera terjadi.

Uji Diagnostik

- Membedakan gegar otak dengan cedera kepala yang lebih serius membutuhkan riwayat menyeluruh mengenai trauma dan pemeriksaan neurologis (tingkat kesadaran (level of consciousness-LOC), status mental, fungsi saraf kranial dan motorik, refleks tendon dalam, dan orientasi terhadap waktu, tempat dan orang).
- CT-Scan dan MRI bisa membantu menyingkirkan fraktur dan cedera yang lebih serius

Tindakan Penanganan

- Penanganan yang utama adalah penanganan suportif; analgesik non opioid bagi sakit kepala jika tidak ada cedera serius
- Jika pemeriksaan neurologis memperlihatkan keabnormalan, cedera bisa jadi lebih berat daripada Gegar Otak (Concussion)  sebaiknya segera ditangani oleh dokter ahlinya langsung.

Info artikel menarik lain silahkan baca Sindrom Nyeri Regional Kompleks (Complex Regional Pain Syndrome-CRPS), sedang untuk informasi alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Sindrom Nyeri Regional Kompleks

Sindrom Nyeri Regional Kompleks yang juga dikenal sebagai distrofi simpatetik refleks (CRPS1) atau kausalgia (CRPS2) merupakan gangguan nyeri kronis yang disebabkan oleh penyembuhan abnormal setelah terjadinya cedera mayor atau minor pada tulang, otot atau saraf. Perkembangan gejala umumnya tidak proporsional dengan keparahan cedera dan terlihat disebabkan oleh pemfungsionalan abnormal dari sistem saraf simpatetik. Satu atau beberapa ekstremitas dan bagian lain di tubuh bisa diserang. 
Sindrom Nyeri Regional Kompleks juga bisa terlihat pada pasien postoperatif dan pada pasien yang penyakitnya bisa menyebabkan nyeri kronis, misalnya kanker dan artritis.


Penyakit Sindrom

Penyebab Sindrom Nyeri Regional Kompleks

- Terganggunya komunikasi antara saraf yang rusak di sistem saraf simpatetik dengan otak yang menyebabkan gangguan sinyal sensasi, suhu, dan aliran darah
- Infeksi
- Cedera

Tanda Dan Gejala Sindrom Nyeri Regional Kompleks

- Kemungkinan perubahan aliran darah ke area yang diserang; sensai hangat atau dingin pada indera peraba, disertai diskolorasi, keringat, atau pembengkakkan
- Nyeri parah dan konstan
- Pada saatnya kulit, rambut, dan kuku berubah disertai gangguan mobilitas dan penyusutan otot

Uji Diagnostik

- Tidak ada uji laboratoris yang tersedia untuk Sindrom Nyeri Regional Kompleks, sehingga diagnosisnya didasarkan pada riwayat pasien dan temuan klinis
- Sinar-X tulang bisa membantu menyingkirkan kondisi lain, misalnya osteomielitis dan fraktur tekanan yang menyebabkan tanda dan gejala serupa.

Tindakan Penanganan

- Terapi obat (misalnya anti-inflamatorik, antidepresan, vasodilator, dan analgesik) merupakan pengobatan yang khas
- Terapi fisik terhadap area cedera (peregangan. latihan aktif dan pasif, dan latihan penguatan), stoking atau sarung tangan kompresif untuk mengontrol edema dan kompres panas atau dingin berguna bagi beberapa pasien
- Dukungan psikologis bisa membantu respons emosional pasien terhadap kondisi
- Menginterupsi hiperaktivitas sistem saraf simpatetik melalui rintangan saraf atau regional merupakan penanganan lain.

Info artikel menarik lain silahkan baca Defisiensi Komplemen (Complement Deficiencies), sedang untuk info produk alkes lengkap silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.


Defisiensi Komplemen

Defisiensi Komplemen (Complement Deficiencies) adalah Rangkaian protein serum enzimatik yang bersirkulasi dengan sembilan komponen fungsional menyusun komplemen. Ketika imunoglobulin (Ig) G atau IgM bereaksi terhadap antigen sebagai bagian dari respons imun, protein tersebut mengawali saluran komplemen klasik, atau kaskade. Kemudian, komplemen bergabung dengan kompleks antigen-antibodi dan menjalani rangkaian reaksi yang memperkuat respons imun terhadap antigen (proses kompleks yang fiksasi komplemen). Defisiensi atau disfungsi komplemen meningkatkan suseptibilitas terhadap infeksi akibat kelainan fagositosis bakterial; bisa juga berkaitan dengan gangguan auto imun tertentu. Defisiensi komplemen primer jarang terjadi. Bentuk yang paling umum adalah defisiensi C1, C2, dan C4 dan disfungsi familial C5.
Keabnormalan komplemen yang lebih sekunder telah dipastikan pada pasien terpilih yang mengalami lupus eritematosus, dermatomiositis, skleroderma, infeksi gonokokal dan meningokokal. Prognosisnya bervariasi menurut keabnormalan dan keparahan penyakit yang berkaitan.


Penyakit Sindrom

Penyebab Defisiensi Komplemen (Complement Deficiencies)

- Defisiensi kompelemen primer : sifat resesif autosomal turun temurun (kecuali defisiensi inhibitor esterase C1 yang disebabkan oleh sifat dominan autosomal)
- Defisiensi sekunder : reaksi imunologis penetapan komplemen (complement fixing) misalnya penyakit serum terpicu obat, glomerulonefritis streptokokal akut, dan lupus eritematosus sistemik aktif akut.

Tanda Dan Gejala

- Defisiensi C1 dan C3 dan disfungsi familial C5 : meningkatnya suseptibilitas terhadap infeksi bakteri (yang bisa melibatkan beberapa sistem tubuh secara simultan)
- Defisiensi C2 dan C4 : penyakit vaskular kolagen, misalnya lupus eritematosus dan disertai gagal ginjal kronis
- Disfungsi C5 (kelainan familial pada bayi) : gagal tumbuh, diare, dan dermatitis seboroik
- Kelainan dalam komponen terakhir dari kaskade komplemen (C5 sampai C9) : meningkatnya suseptibilitas terhadap infeksi neisseria.
- Defisiensi inhibitor esterase C1 (angioderma herediter) : pembengkakkan secara periodik di wajah, tangan, abdomen, atau tenggorokan, disertai edema laringeal yang bisa berakibat fatal

Uji Diagnostik

- Kadar komplemen serum total rendah pada berbagai defisiensi komplemen
- Uji spesifik digunakan untuk memastikan defisiensi komponen komplemen spesifik (misalnya deteksi komponen komplemen dan IgG dengan pemeriksaan imunofluoresen pada jaringan glomerular dalam glomerulonefritis menunjukkan defisiensi komplemen dengan kuat)

Tindakan Penanganan

- Penanganan dilakukan terutama untuk infeksi yang berkaitan, penyakit vaskular kolagen, atau penyakit ginjal. Penanganan adjuvan yang kontroversial meliputi :
- Transfusi plasma beku dan segar digunakan untuk menggantikan komponen komplemen untuk sementara waktu
- Transplantasi sumsum tulang bisa membantu tetapi bisa menyebabkan reaksi graf versus penerima (graft-versus-bost-GVH) yang berpotensi fatal
- Steroid anabolik, misalnya danazol, dan agens antifibrinolitik bisa digunakan untuk meredakan pembengkakkan akut pada pasien yang mengalami angiedema herediter.

Info artikel menarik silahkan baca Imunodefisiensi Variabel Umum (Common Variabel Immunodeficiency), untuk info produk alkes lengkap silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Imunodefisiensi Variabel Umum

Imunodefisiensi Variabel Umum (Common Variabel Immunodeficiency) atau biasa disebut hipogamaglobulinemia perolehan dan agamaglobulinemia dengan sel B pembawa imunoglobulin ditandai dengan deteriorasi progresif imunitas sel B (humorela).
Kondisi ini menyebabkan meningkatnya suseptibilitas terhadap infeksi dan biasanya menimbulkan gejala setelah masa bayi dan kanak-kanak antara usia 25 sampai 40 tahun. Gangguan ini menyerang pria sama banyaknya dengan wanita dan biasanya tidak mengganggu kehidupan normal atau kehamilan normal dan keturunan.


Penyakit Infeksi

Penyebab Imunodefisiensi Variabel Umum (Common Variabel Immunodeficiency)
- Tidak ada bukti yang jelas mengenai pengaruh genetik
- Berkaitan dengan kanker tertentu (misalnya leukemia dan limfoma) dan penyakit autoimun (misalnya lupus eritematosus sistemik, artritis reumatodi, anemia hemolitik dan anemia pernisiosa)

Tanda Dan Gejala Imunodefisiensi Variabel Umum (Common Variabel Immunodeficiency)
- Sel B yang bersirkulasi berjumlah normal disertai kelainan dalam sintesis atau pelepasan imunoglobulin (disebagian besar pasien)
- Infeksi bakteri piogenik kronis (infeksi sinopulmoner, konjungtivitsi kronis)
- Malabsorpsi (umumnya berkaitan dengan infestasi oleh giarda lamblia)
- Artritis inflamatorik nonseptik atau artritis septik
- Aadanya penyakit autoimun (lupus erimatosus sistemik, artritis, reumatodi, anemia hemolitik, dan anemia pernisiosa)

Uji Diagnostik
- Turunnya imunoglobulin (Ig) M,IgA, dan IgG yang terdeteksi oleh imunoelektroforesis dan normalnya jumlah sel B yang bersirkulasi merupakan penanda diagnostik yang khas
- Stimulasi antigenik memastikan ketidakmampuan memproduksi antibodi khusus; imunitas termediasi sel bisa utuh atau tertunda
- Pengujian kulit hipersensitivitas yang tertunda memperlihatkan deteriorasi imunitas sel T (termediasi-sel) progresif
- Sinar-X biasanya menunjukkan tanda penyakit paru-paru kronis atau sinusitis

Tindakan Penanganan
- Beri imun globulin I.V sesuai resep (biasanya mingguan sampai bulanan)
- Infusi plasma beku dan segar memberikan IgA dan IgM
- Antibiotik melawan infeksi
- Sinar-X dan studi fungsi pulmoner secara teratur membantu memantau infeksi di paru-paru
- Fisioterapi dada membersihkan sekresi dan mencegah infeksi.

Info artikel menarik silahkan baca Salesma (Common Cold), sedang untuk info produk alkes lengkap silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Cedera Akibat Dingin

Paparan udara atau air dingin secara berlebihan menyebabkan Cedera Akibat Dingin (Cold Injuries). Cedera ini muncul dalam dua bentuk utama yaitu cedera setempat (misalnya frostbite) dan cedera sistemik (misalnya hipotermia). Jika tidak ditangani atau ditangani dengan tidak cepat dan tepat, frostbite bisa menyebabkan gangren dan bisa memerlukan tindakan amputasi, sedangkan hipotermia berat bisa berakibat fatal. Anak muda, keadaan kurangnya lemak tubuh penyekat, pakaian basah atau tidak cukup dipakai, usia lanjut, penyalahgunaan obat, penyakit kardiak, merokok letih, kelaparan dan menipisnya penyimpanan kalori, dan asupan alkohol berlebihan (yang menarik darah ke dalam kapiler dan menjauhi organ tubuh) memiliki resiko mengalami cedera dingin serius yang lebih besar.


Penyakit Karena Cedera

Penyebab Cedera Akibat Dingin (Cold Injuries)
Frostbite
- Permeabilitas kapiler meningkat akibat bersatunya sel darah merah dan oklusi mikrovaskular
- Cedera akibat dingin setempat : pembentukan kristal es dalam jaringan yang diikuti ekspansi kristal ke dalam ruang ekstraselular
- Paparan suhu beku atau lingkungan dingin dan basah dalam waktu lama
- Ruptur membran sel yang disertai kompresi sel jaringan

Hipotermia
- Hampir tenggelam di air dingin dan paparan suhu dingin dalam waktu lama
- Melambatnya fungsi sistem organ yang paling utama (misalnya berkurangnya aliran darah renal dan menurunnya filtrasi glomerular)

Tanda Dan Gejala Cedera Akibat Dingin (Cold Injuries)
Frostbite
- Frostbite dalam : nyeri, kulit melepuh, nekrosis jaringan, dan gangren, biasanya meluas sampai ke luar jaringan subkutaneus (yang paling sering adalah tangan dan kaki bawah); warna kulit berubah dari putih atau kuning menjadi biru keunguan (saat dicairkan)
- Frostbite superfisial : rasa terbakar, kesemutan, mati rasa, bengkak, dan warna biru-kelabu dan burik pada kulit dan jaringan subkutaneus (wajah, telinga, ekstremitas dan area tubuh lain yang terpapar)

Hipotermia
- Hipertemia ringan : menggigil parah, bicara mencecar, dan amnesia
- Hipotermia sedang : tidak responsif atau mengalami konfusi, rigiditas otot, sianosis periferal, dan jika penderita tidak kembali dihangatkan dengan benar, muncul tanda syok
- Hipotermia berat : refleks tendon hilang, fibrilasi ventrikular, tidak ada denyut nadi yang bisa diraba atau bunyi jantung yang bisa didengar, pupil berdilasi dan rigor mortis (kaku seperti mayat)

Uji Diagnostik
- Diagnosis dipastikan dengan riwayat pasien mengenai paparan dingin yang berat dan berlangsung lama.

Info artikel menarik lain silahkan baca Koksidioidomikosis, sedang untuk info produk alkes lengkap silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Koksidioidomikosis

Koksidioidomikosis (Coccidioidomycosis) yang juga dikenal sebagai demam lembah dan demam lembah san joaquin, disebabkan oleh fungus coccidioides immitis. Penyakit ini paling sering muncul sebagai infeksi traktus respiratorik, tetapi diseminasi tergeneralisasi bisa muncul. Bentuk pulmoner primer biasanya bersifat self-limiting (bisa sembuh tanpa banyak intervensi) dan jarang berakibat fatal.
Bentuk sekunder yang langka (progresif, terdiseminasi) menyebabkan abses di sekujur tubuh dan memiliki tingkat mortalitas sampai 60%, walaupun ditangani. Diseminasi semacam ini lebih banyak menyerang pria berkulit gelap, wanita hamil dan pasien yang diberi imunosupresan. Akibat distribusi populasi dan hubungan pekerjaan (penyakit ini biasa dialami buruh pertanian pendatang), Koksidioidomikosis (Coccidioidomycosis) umumnya menyerang orang amerika filipina, amerika meksiko asli, dan warga kulit hitam.


Penyakit Infeksi

Penyebab Koksidioidomikosis (Coccidioidomycosis)

- Inhalasi spora c.immitis yang ditemukan di tanah amerika serikat bagian barat daya atau inhalasis spora dari pembalut atau gips plester orang yang terinfeksi.

Tanda Dan Gejala Koksidioidomikosis (Coccidioidomycosis)

- Kavitasi pulmoner kronis yang menyebabkan hemoptisis dengan atau tanpa nyeri dada

Koksidioidomikosis Primer

- Tanda dan gejala respiratorik akut atau sub akut : batuk kering, nyeri dada pleuritik, dan efusi pleural
- Demam (bisa berlangsung selama beberapa minggu dan bisa merupakan indikasi tunggal)
- Sakit tenggorokan, menggigil, tidak enak badan, sakit kepala
- Ruam makular yang terasa gatal (bentuk primer)
- Nodulus merah dan terasa perih (eritema nodosum) di kaki, terutama di tulang kering, disertai nyeri sendi di lutut dan pergelangan kaki, muncul selama 3 hari sampai beberapa minggu setelah serangan dan sembuh secara spontan dalam beberapa minggu.

Koksidioidomikosis Terdiseminasi

- Demam
- Abses di sekujur tubuh : jaringan skeletal, sistem saraf pusat, splenik, hepatik, renal dan subkutaneus
- Nyeri tulang dan meningitis, tergantung pada lokasi abses tersebut

Uji Diagnostik

- Tanda dan gejala khas serta studi kulit dan serologis memastikan diagnosis
- Hasil uji kulit koksidioidin positip muncul dalam bentuk primer dan kadang-kadang berntuk terdiseminasi
- Fiksasi komplemen untuk antibodi imunoglobulin G bisa mendiagnosis dalam beberapa minggu pertama
- Presipitin serum positip (imunoglobulin) memastikan diagnosis di bulan pertama
- Pemeriksaan pada pengujian imunodifusi terbaru terhadap sputum, pus dari lesi, dan biopsi jaringan bisa menunjukkan spora c-immitis.
- Adanya antibodi di cairan pleural dan sendi dan peningkatan titer antibodi serum atau cairan tubuh mengindikasikan diseminasi.
- Hasil laboratoris abnormal lain meliputi jumlah sel darah putih (white blood cell-WBC) meningkat, jumlah eosinofil meningkat, dan tingkat sedimentasi eritrosit naik
- Sinar-X dada menunjukkan infiltrasi yang mengalami difusi secara bilateral
- Pada meningitis koksidioidal, cairan serebrospinal menunjukkan jumlah WBC meningkat sampai lebih dari 500/ul (terutama akibat leukosit mononuklear) dan kadar protein naik dan kadar glukosa turun. Cairan ventrikular bisa mengandung antibodi fiksasi komplemen.
- Hasil uji kulit berangkai, kultur darah dan pengujian serologis bisa mendokumentasikan kefektifan terapi.

Tindakan Penanganan

- Koksidioidomikosis primer ringan membutuhkan istirahat di ranjang dan peringanan gejala
- Penyakit primer berat dan diseminasi membutuhkan infusi amphotericin B.I.V.jangka panjang. Jika terjadi diseminasi CNS, pasien membutuhkan infusi amphotericin B intratekal jangka panjang
- Eksisi atau drainase lesi bisa diperlukan
- Lesi pulmoner parah bisa membutuhkan lobektomi.

Info artikel menarik lain silahkan baca Coal Workers Pneumoconiosis (Pneumokoniosis Pekerja Batu Bara), sedang untuk info produk alkes lengkap silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

 

Info PROPERTI

Info Alat Kedokteran

Peluang Bisnis!

Peluang Bisnis Kuliner Jepang MAU?
OTAYAKIMU | Spesialis Okonomiyaki & Takoyaki

Mengajak anda bergabung bersama kami untuk menjadi mitra kami.

Info Mitra / Waralaba :

Pin.5B28812B
Hp.081210707041
Email : Otayaki@yahoo.com
Twitter : @otayakimu
Website : www.otayaki.com/p/info-kerjasama.html