SEPUTAR INFO PENYAKIT DAN INFO KESEHATAN

 
Tampilkan postingan dengan label Kategori G. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategori G. Tampilkan semua postingan

Guillain Barre Sindrom

Guillain Barre Sindrom yang juga dikenal sebagai polineuritis menular, sindrom landry-guillain barre, dan polineuritis idiopatik akut, merupakan bentuk fatal dari polineuritis yang berkembang cepat dan menyebabkan pelemahan otot dan kehilangan sensorik distal ringan.
Sindrom ini bisa muncul di usia berapapun tetapi paling sering di alami antara usia 30 sampai 50 tahun, muncul pada pria maupun wanita, dan menyerang sekitar 2 dari 100.000 orang.


Penyakit Sindrom

Rangkaian klinis dari Guillain Barre Sindrom dibagi menjadi tiga fase yaitu :
1. Fase awal yang dimulai saat pasien mengalami gejala definitif pertama dan berakhir 1 sampai 3 minggu kemudian. Tidak terlihat adanya deteriorasi selanjutnya
2. Fase stabil (plateau) berlangsung dari beberapa hari sampai 2 minggu.
3. Fase penyembuhan diyakini bertepatan dengan remielinasi dan pertumbuhan kembali proses aksonal. Fase ini berlangsung selama 4 sampai 6 bulan. Penderita penyakit parah bisa membutuhkan waktu sampai 2 tahun untuk sembuh dan penyembuhan bisa jadi tidak menyeluruh.
Komplikasi signifikan Guillain Barre Sindrom meliputi gagal ventilatorik mekanis, pneumonia aspirasi, sepsis, kontraktur sendi, dan trombosis vena dalam. Keterlibatan sistem saraf otonomik yang tidak bisa dijelaskan bisa menyebabkan takikardia atau bradikardia sinus, hipertensi, hipotensi postural, dan hilangnya kontrol kandung kemih dan usus.

Penyebab Guillain Barre Sindrom
- Kemungkinan respons imun termediasi sel dan disertai serangan saraf periferal sebagai respons pada virus yang menyebabkan demielinasi segmental saraf periferal

Faktor Predisposisi
- Penyakit hodgkin atau beberapa penyakit ganas lain
- Rabies atau vaksinasi flu babi
- Riwayat terbaru mengenai penyakit febril minor, biasanya infeksi traktus respiratorik atas atau gastroenteritis.
- Pembedahan
- Lupus eritematosus sistemik
- Penyakit akibat virus

Tanda dan Gejala Guillain Barre Sindrom
- Anoreksia
- Disfagia atau disartria dan melemahnya otot yang disuplai saraf kranial XI (saraf asesori tulang belakang)
- Diplegia fasial, bisa disertai oftalmoplegia (paralisis okular)
- Hipotonia
- Pelemahan otot yang bisa terbatas di saraf kranial (di tipe ringan)
- Pelemahan otot, awalnya di kaki (pada tipe naik) dan menyebar ke lengan dan saraf fasial dalam 24 sampai 72 jam, awalnya di lengan (tipe menurun)
- Parestesia yang mendahului pelemahan otot dan lenyap dengan cepat
- Kehilangan fungsi sensorik dan motorik secara simultan
- Kaku dan nyeri dalam bentuk "charley horse" (kaku kejang pada kaki dan lengan)

Uji Diagnostik
- Beberapa hari setelah serangan tanda dan gejala, kadar protein cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid-CSF) mulai naik, memuncak dalam 4 sampai 6 minggu, bisa disebabkan oleh penyakit inflamatorik akar saraf yang menyebar luas
- Jumlah sel darah putih CSF masih normal tetapi di penyakit parah tekanan CSF bisa naik melebihi normal
- Jumlah sel darah putih menunjukkan leukositosis dengan adanya bentuk tidak matang saat penyakit masih di tahap awal, tetapi hasil studi darah kembali ke normal dengan cepat
- Elektromiografi bisa menunjukkan pembakaran unit motorik yang sama secara berulang, bukanya stimulasi seksional yang menyebar luas
- Pengujian elektrofisiologis bisa memperlihatkan kecepatan konduksi saraf yang melambat dan terlihat jelas

Tindakan Penanganan
- Intubasi elektrotrakeal (ET) atau trakeotomi diperlukan bagi pasien yang mengalami kesulitan membersihkan sekresi
- Ventilasi mekanis diperlukan jika pasien mengalami kesulitan respiratorik
- Prednisone dosis percobaan bisa diberikan jika rangkaian penyakit berkembang dengan ganas. Jika prednisone tidak menunjukkan kemajuan nyata setelah 7 hari, hentikan penggunaan obat ini
- Plasmaferesis berguna saat fase awal tetapi tidak memberikan manfaat jika mulai diberikan 2 minggu setelah serangan
- Imunoglobulin I.V.dosis tinggi bisa diberikan untuk mengurangi respons autoimun tetapi harus mulai diberikan sesegera mungkin agar bisa berefek
- Pemantauan elektrokardiogram secara terus menerus diperlukan untuk mengidentifikasi aritmia kardiak. Propranolol (indural) diberikan untuk menangani takikardia dan hipotensi; atropine (sal-tropine) diberikan untuk menangani brakikardia; dan penggantian volume dilakukan untuk menangani hipotensi.

Info artikel menarik lain silahkan baca Granulositopenia & Limfositopenia, sedang untuk info Alat Kedokteran & Kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Granulositopenia & Limfositopenia

Penderita Granulositopenia secara nyata mengalami penurunan jumlah ganulosit yang bersirkulasi. Walaupun hal ini menggambarkan bahwa semua granulosit (neutrofil, basofil, dan eosinofil) berkurang, Granulositopenia biasanya hanya mengacu pada berkurangnya neutrofil.
Gangguan ini bisa muncul di usia berapapun dan berkaitan dengan infeksi dan lesi ulseratif di tenggorokan, traktus GI, selaput lendir lainnya, dan kulit. Bentuk yang diketahui paling parah adalah agranulositosis.
Limfositopenia (limfopenia) merupakan gangguan langka dan ditandai dengan defisiensi limfosit yang bersirkulasi (leukosit yang paling banyak diproduksi di nodus limfa).
Dalam Granulositopenia dan limfositopenia, jumlah sel darah putih (white blood cell-WBC) total bisa mencapai kadar rendah dan kondisi ini berbahaya karena membuat tubuh tidak terlindungi dari infeksi. Prognosis kedua penyakit ini tergantung pada penyebab dan pada apakah kondisi yang diderita pasien bisa ditangani. Jika tidak ditangani, Granulositopenia bisa berakibat fatal dalam 3 sampai 6 hari.


Penyakit Dalam

Penyebab Granulositopenia
Granulositopenia
- Terapi radiasi atau obat
- Sekuestrasi splenik
- Infeksi virus dan bakteri

Limfositopenia
- Anemia plastik
- Kemoterapi (dengan agens alkilasi)
- Kenaikan kadar kortikoid plasma
- Keabnormalan genetik atau timik
- Penyakit hodgkin
- Gangguan imunodefisiensi, misalnya ataksilangiektasia dan displasia timik
- Gangguan drainase limfatik intestinal
- Limfangiektasia intestinal
- Leukemia
- Lupus eritematosus
- Miastenia gravis
- Malnutrisi protein kalori
- Terapi radiasi
- Gagal ginjal
- Sarkoidosis
- Penyakit imunodefisiensi gabungan yang parah
- Kanker tingkat akhir
- Drainase duktus toraks
- Tuberkulosis

Tanda dan Gejala
Granulositopenia
- Ulserasi faringeal bisa disertai nekrosis yang berkaitan
- Pneumonia
- Septisemia, bisa menyebabkan syok septik dan kematian
- Rasa letih dan lemah yang berkembang lambat
- Serangan tanda infeksi berat secara mendadak
- Ulser dimulut atau kolon

Limfositopenia
- Pembesaran nodus limfa, limfa dan tonsil
- Tanda penyakit yang berkaitan

Uji Diagnostik
- Jumlah darah lengkap memperlihatkan berkurangnya neutrofil dengan jelas dan jumlah sel darah putih kurang dari 2000/ul dan sedikit granulosit yang bisa dilihat
- Pemeriksaan sumsum tulang umumnya menunjukkan berkurangnya sel prekursor granulositik sampai kurang dari bentuk yang paling tidak matang, tetapi temuan ini bisa bervariasi, tergantung pada penyebabnya
- Jumlah limfosit yang kurang dari 1500/ul pada orang dewasa atau kurang dari 3000/ul pada anak-anak mengindikasikan limfositopenia.

Tindakan Penanganan
Granulositopenia
- Penanganan di fokuskan pada eliminasi penyebab dan kontrol infeksi sampai sumsum tulang bisa menghasilkan banyak.
- Antifungal bisa ditambahkan dalam pengobatan jika demam tidak responsif dalam 4 sampai 5 hari (atau jika kambuh) dengan antibiotik spektrum luas
- Faktor penstimulasi koloni, misalnya filgrastim (G-CSF; neupogen) atau sargramostim (GM-CSF; leukine), menstimulasi sumsum tulang dalam memproduksi neutrofil.

Limfositopenia
- Penanganan difokuskan pada eliminasi penyebab dan manajemen gangguan mendasar
- Transplantasi sumsum tulang bisa diperlukan bagi bayi yang menderita penyakit imunodefisiensi gabungan parah.

Info artikel menarik lain silahkan baca Sindrom Rejeksi Graf (Graft Rejection Syndromes), untuk info Alat Kedokteran & Kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Graft Rejection Syndromes

Sindrom Rejeksi Graf saat keahlian dan frekuensi praktek klinis transplantasi organ padat berkembang, fokus pada mekanisme dan penanganan selanjutnya untuk rejeksi graft bisa tumbuh. Jaringan yang umumnya di transplan adalah ginjal, hati, jantung, paru-paru, dan kornea. Transplantasi sumsum tulang merupakan transplantasi unik karena sistem imun penerima (host) transplantasi mengalami supresi secara nyata dan respons termediasi-imun bisa terjadi jika sel dalam sumsum tulang yang ditransplan bereaksi melawan antigen penerima transplantasi.
Insidensi rejeksi graf telah berkurang secara signifikan dengan kemajuan teknik screening yang sesuai dan pengaturan imunosupresif
Sindrom Rejeksi Graf bisa dibagi menjadi tiga sub tipe berdasarkan serangan dan mekanisme yang terlibat.
50% pasien transplan mengalami rejeksi akut (hanya 10% darinya berkembang kehilangan graf) yang bisa terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah transplantasi. Insidensi rejeksi akut telah berkurang secara signifikan berkat keberhasilan penggunaan imunosupresan, misalnya cyclosporine (sandimmune) dan azathioprine (imuran). Insidensi kehilangan graf telah berkurang berkat terapi antirejeksi terbaru.
Rejeksi kronis muncul di 50% pasien transplan dalam waktu 10 tahun setelah transplantasi. Rejeksi bentuk ini ditandai dengan perkembangan oklusi luminal pembuluh darah akibat penebalan progresif lapisan intimal dinding arterial medium dan besar.
Rejeksi hiperakut muncul dalam waktu beberapa menit sampai beberapa hari setelah transplantasi graf. Rejeksi tipe ini sudah jarang terjadi dan menyerang kurang dari 1% resipien transplan berkat kemajuan scrrening pratransplan.


Penyakit Sindrom

Penyebab Sindrom Rejeksi Graf
- Respons imun terhadap graf

Tanda dan Gejala Sindrom Rejeksi Graf
- Bervariasi secara nyata, tergantung pada tipe rejeksi, penyakit mendasar, dan tipe organ yang di transplan
- Edema dalam jantung
- Gagal jantung
- Hipotensi
- Perkembangan disfungsi organ secara cepat maupun bertahap, misalnya oliguria dan kenaikan kadar nitrogen urea darah dan kreatinin serum dalam ginjal

Uji Diagnostik
- Biopsi jaringan yang di transplan
- Jaringan dalam rejeksi akut memperlihatkan wilayah fokal infiltrasi perivaskular leukosit, yang menyebarluas saat proses berkembang. Akhirnya terlihatlah distorsi jaringan, nekrosis selular, dan debris
- Di rejeksi kronis, pembuluh graf secara jelas memperlihatkan penebalan dinding yang bisa mengalami oklusi dan fibrosis interstisial difusi terlihat menyolok. Infiltrasi leukosit biasanya ringan atau tidak ada
- Jaringan graf yang mengalami rejeksi hiperakut ditandai dengan banyaknya leukosit polimornuklear dalam pembuluh darah graf, mikrotrombi yang menyebar luas, akumulasi keping darah, dan hemoragi interstisial. Inflamasi interstisial ringan atau tidak ada
- Kadar transminase naik
- Kadar albumin turun

Tindakan Penanganan
- Manajemen pasien transplan melibatkan perawatan postoperatif setelah transplan, pemantauan fungsi organ graf secara seksama, terapi imunosupresif untuk mencegah dan mengontrol rejeksi akut, dan pengamatan dengan tindakan profilaktik melawan infeksi oportunistik
- Metode utama untuk mengelola rejeksi hiperakut adalah pencegahan. Menghindari kombinasi donor-resipien beresiko tinggi dan menggunakan screening pratransplan menyeluruh untuk antibodi reaktif-silang penting dilakukan. Jika terjadi reaksi rejeksi hiperakut tidak ada agens farmakologis yang bisa menghentikannya sampai organ donor lain ditemukan, rejeksi hiperakut dikelola secara suportif.

Info artikel menarik lain silahkan baca mengenai penyakit Gout (Gouty Arthritis), untuk info Alat Kedokteran & Kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gout (Gouty Arthritis)

Gout (Pirai) yang juga dikenal sebagai gouty arthritis merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan endapan urat di sendi, yang menyebabkan sendi artritik yang terasa menyakitkan. Gout bisa menyerang sendi manapun tetapi lebih sering muncul di kaki bawah maupun kaki atas. Gout Primer biasanya muncul pada pria yang berusia lebih dari 30 dan pada wanita postmenopausal. Gout Sekunder  muncul pada orang yang lebih tua.
Gout mengikuti rangkaian intermiten dan umumnya pasien terbatas dari gejala selama beberapa tahun antara serangan. Gout bisa menyebabkan kelemahan atau ketidakmampuan kronis dan hipertensi parah (jarang terjadi) dan penyakit ginjal progresif. Jika ditangani prognosisnya baik.


Penyakit Sendi

Penyebab Gout
- Kelainan genetik dalam metabolisme purine
- Pseudogout : kristal pisofosfat kalsium dalam struktur sendi periartikular
- Gout sekunder : berkaitan dengan obesitas, diabetes melitus, hipertensi, anemia, sel sabit, penyakit ginjal, dan terapi obat (terutama hydrochlorothiazide atau pyrazinamide).

Tanda dan Gejala Gout
Gout Asimtomatik
- Kenaikan kadar urin serum

Stadium Akut
- Serangan akut yang cepat dan mendadak dan memuncak dengan cepat yang hanya menyerang satu atau beberapa sendi disertai nyeri ekstrem, sendi terasa panas, perih, terinflamasi, berwarna merah kehitaman atau sianotik
- HIpertensi atau nefrolitiasis dan disertai nyeri parah dipunggung
- Awalnya inflamasi sendi metatarsofalangeal di jari kaki besar (podagra), diikuti di sendi kura-kura kaki, pergelangan kaki, tumit, lutut atau pergelangan tangan
- Demam tingkat-rendah (kadang-kadang)
- Serangan akut ringan berupa resolusi cepat dan rekurensi tidak teratur
- Serangan parah yang berdurasi beberapa hari atau minggu.



Stadium Interkritis
- Serangan berpindah pada berbagai sendi dan tendon achiles secara berurutan, berkaitan dengan bursitus subdeltoid sekaligus olekranon
- Serangan kedua berlangsung lebih lama dan lebih parah, umumnya muncul dalam 6 bulan sampai 2 tahun tetapi biasanya 5 sampai 10 tahun
- Interval tanpa gejala antara gout dan serangan

Stadium Kronis
- Inflamasi kronis dan endapan tofaseosa yang mempercepat degenerasi sendi sekunder dan akhirnya mengakibatkan erosis, deformitas dan ketidakmampuan
- Hipertensi dan albuminuria
- Keterlibatan ginjal dengan kerusakan tubular yang berkaitan dan menyebabkan disfungsi ginjal kronis
- Poliartritis persisten yang menyakitkan dan disertai tofi besar dan subkutaneus di kartilago, membran sinovial, tendon dan jaringan lunak
- Pembentukan tofi di jari tangan, tangan, lutut, kaki bawah, sisi ulnar lengan atas, heliks telinga, tendon achilles, dan organ internal, misalnya ginjal dan miokardium
- Ulserasi kulit di tofus disertai pelepasan eksudat atau pus seperti kapur dan berwarna putih
- Urolitiasis (umum)

Uji Diagnostik
- Kristal monohidrat monosodium urat di cairan sinovial dari sendi yang terinflamasi atau tofus menyusun diagnosis
- Aspirasi cairan sinovial (artosentesis) atau material tofaseus memperlihatkan kristal natrium urat intraselular mirip jarum
- Walaupun hiperurisema tidak mendiagnosis gout secara khusus, kadar asam urat serum melebihi normal. Kadar asam urat urin biasanya lebih tinggi di gout sekunder daripada gout primer
- Awalnya pemeriksaan sinar-X normal. Akan tetapi di gout kronis, sinar-X memperlihatkan kerusakan kartilago artikular dan tulang subkondral. Pemindahan keluar marjin yang bergantungan dari kontur tulang menandakan gout.

Tindakan Penanganan
Gout Akut
- Penanganan primer antara lain dengan beristirahat di ranjang, mengompreskan panas atau dingin secara lokal, dan imobilisasi dan perlindungan sendi yang terinflamasi dan terasa sakit
- Analgesik, misalnya asetaminofen (tylenol) meringankan nyeri yang berkaitan dengan serangan ringan, tetapi inflamasi akut membutuhkan obat anti-inflamatorik nonsteroid intra-artikular kadang-kadang diperlukan untuk menangani serangan akut

Gout Kronis
- Pemberian dsis allopurinol (zyloprim) secara terus menerus diberikan pada banyak kasus untuk menekan pembentukan asam atau mengontrol kadar asam urat, sehingga mencegah serangan lebih lanjut. Obat kuat ini sebaiknya digunakan secara hati-hati pada pasien yang menderita gagal ginjal
- Agens uricosuric membantu ekskresi asam urat dan menghambat akumulasi asam urat
- Pembatasan makanan antara lain dengan menghindari alkohol dan makanan kaya purine. Pasien obesitas sebaiknya mencoba memulai program menurunkan berat badan karena obesitas menambah tekanan pada sendi yang diserang
- Pembedahan bisa diperlukan untuk meningkatkan fungsi sendi atau mengoreksi deformitas
- Eksisi dengan pembedahan dan drainase diperlukan untuk tofi yang terinfeksi dan terulserasi.

Info artikel menarik lain silahkan baca penyakit Gonore (Gonorrhea), sedang untuk info alat kedokteran & kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gonore (Gonorrhea)

Gonore (Gonorrhea) merupakan penyakit menular seksual umum dan infeksi traktus genitourinari (terutama uretra dan serviks) dan kadang-kadang, rektum, faring, dan mata. Jika tidak ditangani, Gonore bisa menyebar melalui darah ke sendi, tendon, meninges dan endokardium; pada wanita Gonore juga bisa menyebabkan penyakit inflamatorik pelvis (pelvic inflammatory disease-PID) kronis dan sterilitas.
Jika ditangani dengan cukup prognosisnya sangat bagus, baik pada pria atau wanita, walaupun infeksi kembali merupakan hal yang sering terjadi. Prevalensi Gonore paling tinggi di antara orang berusia muda dan orang yang memiliki banyak pasangan.


Penyakit Kelamin

Penyebab Gonore
- Infeksi neisseria gonorrhoeae yaitu organisme yang menyebabkan Gonore.
- Paparan di lairan melalui kanal kelahiran (neonatorum oftalmia gonokokal)
- Konjungtivitis gonokokal : menyentuh mata dengan tangan yang terkontaminasi
- Hubungan seksual dengan orang yang terkontaminasi

Tanda dan Gejala Gonore
- Vagina teriris, memerah, dan bengkak, disertai keluar purulen dalam jumlah besar
- Demam
- Serviks rapuh dan pengeluaran berwarna kuning kehijauan
- Infeksi okular
- Nyeri dan bunyi retak saat menggerakkan sendi yang terlibat
- Lesi kulit papiler di tangan dan kaki bawah
- Perihepatitis
- Infeksi faringeal
- PID
- Keluaran purulen dari meatus uretral
- Infeksi rektal
- Meatus uretral merah dan bengkak pada wanita

Uji Diagnostik Penyakit Gonore
- Kultur dari tempat infeksi (uretra, serviks, rektum, atau faring) yang ditumbuhkan di medium thayer-martin, biasanya membentuk diagnosis dengan mengisolasi organisme
- Pewarnaan gram yang menunjukkan diplokokus gram-negatif mendukung diagnosis dan cukup bisa memastikan Gonore pada pria
- Kepastian artritis gonokokal membutuhkan identifikasi diplokokus gram-negatif pada pulasan yang dibuat dari cairan sendi dan lesi kulit. Fiksasi komplemen dan uji imunofluoresen serum memperlihatkan tingkat filter antibodi empat kali dari normal
- Kultur pengerikan konjungtival memastikan konjungtivitis gonokokal

Tindakan Penanganan
- Ceftriaxone (rochepin) dosis tunggal di indikasikan untuk orang dewasa dan remaja penderita Gonore tidak komplikatif yang disebabkan oleh N.gonorrhoeae yang tidak memproduksi penisilinase suseptibel
- Doksisiklin (vibramycin) diberikan secara oral dua kali per hari selama 7 hari untuk penanganan presumtif pada infeksi chlamidia trachomatis yang terjadi bersamaan
- Ceftriaxone dan eritromisin dosis tunggal selama 7 hari di rekomendasikan bagi pasien yang sedang hamil dan pasien yang alergi penisilin
- Pengobatan awal untuk infeksi gonokokus terdiseminasi pada orang dewasa dan remaja adalah ceftriaxone I g I.M atau I.V tiap 24 jam
- Semua pengobatan sebaiknya tetap dilakukan selama 24 jam sampai 48 jam setelah pasien membaik, kemudian terapi bisa diganti dengan cefixime (suprax) oral dua kali per hari untuk menyelesaikan terapi antimikrobial selama 1 minggu penuh.

Info artikel menarik lain silahkan baca penyakit Gondok (Goiter), untuk info alat kedokteran & kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gondok (Goiter)

Gondok (Goiter) non toksik atau sederhana pembesaran kelenjar tiroid yang tidak disebabkan oleh inflamasi atau neoplasma umumnya diklasifikasikan sebagai endemik atau sporadik. Gondok muncul jika kelenjar tiroid tidak bisa memproduksi dan mensekresi hormon yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Akibatnya kadar hormon penstimulasi-tiroid (htyroid-stimulating hormone-TSH) naik dan menyebabkan kelenjar tiroid membesar akibat sintesis hormon yang tidak cukup. Akibatnya menimbulkan kerusakan hormonal ringan sampai menengah.
Gondok endemik lebih sering menyerang wanita daripada pria, terutama saat masa remaja dan hamil, ketika permintaan tubuh terhadap hormon tiroid meningkat. Gondok sporadik tidak menyerang segmen populasi tertentu. Kedua tipe memiliki prognosis yang baik jika ditangani dengan tepat.



Penyebab Gondok
- Kedua tipe gondok : kelainan turun temurun yang bisa menyebabkan sintesis T yang tidak cukup atau gangguan metabolisme yodium
- Gondok endemik :asupan yodium dalam makanan yang tidak mencukupi sehingga menyebabkan produksi dan sekresi hormon tidak cukup
- Gondok sporadik : tercernanya makanan goitrogenik dalam jumlah besar atau penggunaan obat goitrogenik
(Obat goitregonik : propylthiouracil (PTU), methimazole (Tapazole), iodida dan litium (lithobid))
(Makanan goitregonik : kol, kacang kedelai, kacang tanah, buah persik, kacang polong, stroberi, bayam dan lobak).

Tanda dan Gejala Gondok
- Pembesaran kelenjar ringan sampai gondok sangat besar dan multinodular
- Distres respiratorik dan disfagia akibat kompresi trakea dan esofagus dan akibat pembengkakan dan distensi leher
- Gondok besar : obstruksi pengembalian venosa yang menyebabkan vena terisi dan membengkak, dan dikasus langka, perkembangan sirkulasi venosa kolateral di dada, dan bisa disertai pusing dan sinkope (jika pasien mengangkat lengan di atas kepalanya).



Uji Diagnostik
- Ultrasound tiroid memperlihatkan gumpalan tiroid
- Biopsi memperlihatkan tipe lesi
- Kadar TSH bisa tinggi atau normal
- Konsentrasi T4 serum normal atau di bawah normal
- Masuknya yodium 131 normal atau meningkat (50% dari dosis selama 24 jam)

Tindakan Penanganan
- Penggantian hormon tiroid eksogenosa dengan levotiroksin (synthroid) merupakan pilihan penanganan yang mengurangi sekresi TSH dan memungkinkan kelenjar beristirahat
- Yodium dosis kecil (larutan iodida lugol atau kalium) umumnya meringankan gondok yang disebabkan oleh defisiensi yodium
Pasien Gondok sporadik harus menghindari obat dan makanan goitregonik yang diketahui
- Gondok besar  yang tidak merespons penanganan bisa membutuhkan tiroidektomi subtotal.

Info artikel menarik lain silahkan baca Glomerulonefritis Kronis, sedang untuk info alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Glomerulonefritis Kronis

Glomerulonefritis Kronis merupakan penyakit yang berkembang lambat dan ditandai dengan inflamasi glomeruli yang mengakibatkan sklerosis, parut dan akhirnya gagal ginjal.
Kondisi ini biasanya tetap subklinis sampai fase progresif dimulai yang ditandai dengan proteinuria, silindruria (adanya struktur silinder pipa granular) dan hematuria. Saat penyakit ini menimbulkan gejala, Glomerulonefritis Kronis biasanya tidak reversibel.



Penyebab Glomerulonefritis Kronis
- Diabetes melitus
- Glomerulosklerosis fokal
- Sindrom goodpasture
- Lupus eritomatosus
- Glomerulonefritis membranoproliferatif
- Glomerulopati membranosa
- Glomerulonefritis poststreptokokal
- Glomerulonefritis yang berkembang cepat

Tanda dan Gejala Glomerulonefritis Kronis
- Awalnya tidak menunjukkan gejala, bisa selama beberapa tahun
- Hematuria
- Hipertensi
- Sindrom nefrotik
- Proteinuria

Stadium Lanjut
- Gagal ginjal tingkat atas (semakin cepat pada pasien yang menderita hipertensi parah yang terjadi bersamaan) yang akhirnya memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal
- Azotema
- Mual dan muntah
- Pruritus
- Dispnea
- Tidak enak badan dan letih
- Edema dan anemia ringan sampai berat
- Hipertensi parah yang menyebabkan hipertrofi kardiak, yang mengakibatkan gagal jantung.

Uji Diagnostik
- Urinalisis memperlihatkan proteinuria, hematuria, silindruria, dan struktur silinder sel darah merah
- Kenaikan kadar nitrogen urea darah dan kreatinin serum mengindikasikan insufisiensi renal tingkat atas
- Sinar-X atau USG menunjukkan ginjal yang lebih kecil
- Biopsi ginjal mengidentifikasi penyakit mendasar dan memberikan data yang diperlukan untuk memandu terapi

Tindakan Penanganan
- Antihipertensif dan makanan dengan natrium terbatas diberikan untuk menurunkan tekanan darah
- Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dilakukan dengan pembatasan dan penggantian
- Diuretik, misalnya furosemide (lasix), digunakan untuk meringankan edema dan mencegah gagal jantung
- Antibiotik digunakan untuk menangani infeksi traktus kencing simtomatik
- Dialisis atau transplantasi ginjal bisa digunakan untuk mengontrol gejala gagal ginjal atau agar pasien bisa tetap hidup.

Info artikel menarik lain silahkan baca Glomerulonefritis Akut, untuk info alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

-----------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk info peluang usaha masakan Jepang Okonomiyaki & Takoyaki pelajari infonya DISINI.

Glomerulonefritis Akut

Glomerulonefritis Poststreptococcal Akut yang juga disebut sebagai Glomerulonefritis Akut merupakan inflamasi bilateral glomeruli yang relatif umum. Penyakit Glomerulonefritis Akut ini mengikuti infeksi streptokokal traktus respiratorik atau infeksi kulit, misalnya impetigo. Glomerulus yang rusak dan terinflamasi akan kehilangan kemampuannya untuk dapat ditembus secara selektif, sehingga sel darah merah (red blood cell-RBC) dan protein bisa merembes jika tingkat filtrasi glomerular (Glomerular filtration-GFR) menurun.
Glomerulonefritis Akut paling sering menyerang anak laki-laki berusia 3 sampai 7 tahun, tetapi bisa juga muncul di usia berapapun. Sampai 95% anak-anak dan 70% orang dewasa penderita Glomerulonefritis Akut bisa sembuh total, sedangkan pasien lain bisa mengalami gagal ginjal kronis dalam beberapa bulan.


Penyakit Pencernaan

Penyebab Glomerulonefritis Akut
- Terjebaknya dan terakumulasinya kompleks antigen-antibodi (yang diproduksi sebagai mekanisme imunologis sebagai respons terhadap streptokokus) dalam membran kapiler glomerular, sehingga memicu kerusakan inflamatorik dan mengganggu fungsi glomerular
- Faringitis yang tidak ditangani

Tanda dan Gejala Glomerulonefritis Akut
- Letih
- Edema ringan sampai menengah
- Hipertensi ringan sampai berat
- Edema pulmoner (pada gagal jantung akibat hipervolemia)
- Oliguria (kurang dari 400 ml/24 jam), proteinuria, azotemia dan hematuria



Uji Diagnostik
- Urinanalisis biasanya memperlihatkan proteinuria dan hematuria. Adanya RBC, sel darah putih, protein dan struktur silinder sel campuran dalam urin mengindikasi gagal ginjal
- Uji darah menunjukkan kenaikan kadar kreatinin serum, pembersihan kreatinin rendah dan kerusakan filltrasi glomerular
- Kenaikan titer antistreptolisin-O (pada 80% pasien) kenaikan titer streptozyme dan anti-Dnase B dan kadar komplemen serum rendah membuktikan infeksi streptokokus yang sedang terjadi
- Kultur tenggorokan juga bisa menunjukkan kelompok streptokokus beta-hemolitik
- Ultrasonografi renal bisa menunjukkan ginjal normal atau sedikit membesar
- Biopsi renal bisa memastikan diagnosis pada pasien Glomerulonefritis Akut atau bisa digunakan untuk mengkaji status jaringan renal

Tindakan Penanganan
- Perawatan suportif meliputi beristirahat di ranjang, membatasi cairan dan natrium dalam makanan dan mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit (bisa dengan dialisis walaupun jarang diperlukan)
- Diuretik, misalnya metolazome (zaroxolyn) dan furosemide (lasix) mengurangi kelebihan cairan; vasodilator, misalnya hydralazine (apresoline), juga bisa diberikan untuk menurunkan tekanan darah
- Antibiotik diberikan untuk membasmi infeksi streptokokus.

Info artikel menarik lain silahkan baca Penyakit Glaukoma, sedang untuk info alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Glaukoma

Glaukoma merupakan kelompok gangguan yang ditandai dengan tekanan intraokular (intraocular pressure-IOP) yang cukup tinggi untuk bisa merusak saraf optik. Jika tidak ditangani, Glaukoma menyebabkan kehilangan penglihatan periferal secara bertahap dan akhirnya kebutaan.
Glaukoma muncul dalam beberapa bentuk : glaukoma sudut terbuka primer (primary open angle/kronis), penutup sudut akut (acute angle closure/sudut sempit), tensi rendah (IOP normal yang terlalu tinggi untuk orang tertentu), dan kongenital (diwariskan sebagai sifat resesif autosomal); dan glaukoma yang disebabkan oleh kondisi tertentu.
Glaukoma merupakan satu dari penyebab kebutaan di amerika serikat. Sekitar 2% orang amerika yang berusia 40 sampai 50 tahun dan 8% orang amerika yang berusia lebih dari 70 tahun menderita penyakit ini.
Insidensinya paling tinggi pada warga kulit hitam dan merupakan satu-satunya penyebab paling umum dari kebutaan di populasi tersebut


Penyakit Mata

Penyebab Glaukoma
Glaukoma Sudut Terbuka Primer
- Obstruksi aliran humor akueus melalui saluran trabekular atau kanal Schlemm (umumnya terjadi dalam keluarga; menyerang 90% dari semua penderita glaukoma)
- Produksi humor akueus yang berlebihan

Glaukoma Penutupan Sudut Akut
- Adhesi (pelekatan) di sudut antara iris anterior dengan permukaan korneal posterior (disebut sebagai sinekia anterior periferal)
- Neovaskularisasi di sudut akibat oklusi vena atau diabetes)
- Obstruksi aliran humor cair yang disebabkan oleh sudut yang sempit secara anatomis antara iris anterior dan permukaan korneal posterior, bilik anterior dangkal, penebalan iris menyebabkan penutupan sudut saat dilasi pupil, atau pupil menonjol yang menekan trabekulae sehingga menutup sudut

Glukoma Sekunder
- Diabetes
- Pengaruh obat misalnya kortikosteroid
- Trauma
- Uveitis
- Oklusi venosa

Tanda dan Gejala
Glaukoma Sudut terbuka Primer dan Bilateral
- Kehilangan penglihatan periferal
- Sakit ringan di mata
- Menurunnya akuitas visual (terutama di malam hari) yang tidak bisa dikoreksi dengan kacamata
- Melihat halo di sekitar cahaya

Glaukoma Penutupan Sudut Akut
- Kekaburan dan menurunnya akuitas visual
- Kornea buram
- Dilasi pupil sedang yang tidak reaktif terhadap cahaya
- Mual dan muntah
- Fotofobia
- Tekanan di mata
- Melihat halo di sekitar cahaya
- Inflamasi dan nyeri mata unilateral

Uji Diagnostik
- Tonometri (menggunakan aplanasi, tonometer schiotz atau pneumatik) mengukur IOP dan memberikan dasar acuan. IOP normal berkisar dari 8 sampai 21 mmHg, tetapi beberapa pasien yang memiliki IOP normal bisa menunjukkan tanda dan gejala glaukoma. Disisi lain beberapa pasien yang memiliki IOP yang tinggi secara abnormal tidak mengalami efek klinis. Tensi ujung jari merupakan cara lain untuk mengukur IOP. Saat dilakukan palpasi lembut pada kelopak mata yang tertutup, satu mata terasa lebih keras daripada mata yang lain pada penderita Glaukoma Penutupan Sudut Akut.
- Pemeriksaan lampu celah memberikan pandangan di struktur anterior mata, termasuk kornea, iris dan lensa
- Gonioskopi, dengan menentukan sudut bilik anterior mata, bisa membedakan Glaukoma Sudut Terbuka Primer dan Glaukoma Penutupan Sudut Akut. Sudut normal jika pasien mengalami Glaukoma Sudut Terbuka Primer. Pasien yang lebih tua juga bisa mengalami penutupan parsial sudut sehingga bisa mengalami dua bentuk glaukoma sekaligus.
- Optalmoskopi memberikan pandangan fundus, saat pelengkungan diskus optik bisa dilihat dalam Glaukoma Sudut Terbuka Kronis. Perubahan ini muncul selanjutnya dalam Glaukoma Sudut Terbuka Kronis jika penyakit tidak dikontrol.
- Perimetri atau uji bidang visual membantu mengevaluasi perluasan deteriorasi sudut terbuka dengan menentukan kehilangan penglihatan periferal
- Fotografi fundus bisa memantau diskus untuk melihat setiap perubahan

Tindakan Penanganan
Glaukoma Sudut Terbuka
- Perintang beta adrenergik, misalnya timolol (betimol) memiliki kontra indikasi pada pasien yang menderita asma atau bradikardia dan betaxolol (betopic) menurunkan tekanan dengan mengurangi produksi humor akueus
- Antagonis alfa, misalnya brimonidine (alpagan P) menurunkan IOP
- Inhibitor anhidrase karbonat topikal bisa menurunkan tekanan dengan mengurangi produksi humor akueus.
- Tetes mata miotik mempermudah aliran keluar humor akueus
- Trabekulektomi yaitu prosedur penyaringan melalui pembedahan yang membuat lubang untuk aliran keluar akueus, bisa diperlukan jika kondisi pasien tidak merespons penanganan medis
- Shunt pipa / katup bisa dibutuhkan untuk menurunkan IOP pada penyakit stadium akhir
- Trabekuloplasti laser argon, saat tembakan laser argon difokuskan pada saluran trabekular sudut terbuka menghasilkan panas yang mengubah permukaan saluran dan meningkatkan aliran keluar humor akueus.

Glaukoma Penutupan Sudut
- Penanganan langsung diperlukan untuk menurunkan IOP yang tinggi. Jika tekanan tidak turun dengan terapi obat, iridotomi laser atau iridektomi periferal dengan pembedahan harus dilakukan secara ceoat dan tepat untuk menyelamatkan penglihatan pasien
- Iridektomi meringankan tekanan dengan menginsisi bagian iris untuk membentuk kembali aliran keluar humor akueus. Iridektomi profilatik dilakukan beberapa hari kemudian pada mata yang lain untuk mencegah rangkaian glaukoma akut di mata tersebut
- Mannitol I.V. dan tetes mata steroid diberikan setelah operasi untuk mengurangi dan mengatasi inflamasi.
- Timolol digunakan untuk menurunkan IOP
- Analgesik opioid diberikan untuk meringankan nyeri parah.

Info artikel menarik lain silahkan baca Refluks Gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux), sedang untuk info alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gastroesophageal Reflux

Aliran balik atau refluks gastriks dan konten duodenal ke dalam esofagus dan melewati sfingter esofageal bawah (lower esophageal sphincer-LES) dan tidak berkaitan dengan sendawa atau muntah disebut Refluks Gastroesofageal. Refluks bisa jadi tidak menimbulkan gejala atau perubahan patologis. Refluks persisten bisa menyebabkan esofagitis refluks (inflamasi mukosa esofageal). Prognosisnya bervariasi menurut penyebabnya.
Penyakit Pencernaan


Penyebab Refluks Gastroesofageal
- Pembersihan esofageal secara abnormal
- Ketidaksempurnaan tekanan LES atau tekanan di dalam lambung yang lebih besar dari tekanan LES
- Keterlambatan pengosongan gastrik yang disebabkan oleh obstruksi jalan keluar gastrik parsial atau gastroparesis

Faktor Predisposisi
- Agens apapun yang menurunkan LES bawah, misalnya makanan, alkohol, rokok, dan kolinergis (atropine, belladonna dan propantheline) dan obat lain (morfin, diazepam (valium), dan meperidine (demoral)
- Kondisi atau posisi apapun yang meningkatkan tekanan intraabdominal
- Hernia hiatal (terutama pada anak-anak)
- Intubasi nasogastrik (NG) jangka panjang (lebih dari 5 hari)
- Pembedahan pilorik (pengubahan atau pembuangan pilorus)

Tanda dan Gejala Refluks Gastroesofageal
- Asimtomatik (pada beberapa kasus)
- Pendarahan (berwarna merah cerah atau cokelat gelap)
- Nyeri kronis, bisa memancar sampai leher, rahang dan lengan)
- Penyakit pulmonari kronis atau desahan nokturnal, bronkitis, asma, suara parau di pagi hari, dan batuk (akibat refluks konten gastrik ke dalam tenggorokan dan aspirasi setelahnya)
- Disfagia
- Kegagalan pertumbuhan dan muntah dengan kuat akibat iritasi esofageal (pada anak-anak)
- Indigesti dan mulas
- Regurgitasi nokturnal
- Odinofagia dan kemungkinan sakit substernal samar.

Uji Diagnostik
- Fluoroskopi penelanan barium, penyelidikan pH esofageal, endoskopi dan esofagoskopi memastikan diagnosis
- Uji keasaman esofageal adalah pengukuran yang paling sensitif dan akurat pada refluks gastroesofageal. Derajat refluks bisa ditentukan dengan pemantauan pH esofageal selama 12 jam sampai 36 jam
- Pada anak-anak, esofagografi barium dengan kontrol fluoroskopis bisa menunjukkan refluks. Refluks rekuren setelah pasien berusia 6 minggu merupakan kondisi abnormal
- Esofagoskopi dan biopsi memungkinkan visualisasi dan kepastian perubahan patologis dalam mukosa

Tindakan Penanganan
- Tempatkan pasien di posisi trendelenburg melintang (kepala ranjang dinaikkan) saat tidur
- Terapi posisional berguna terutama bagi bayi dan anak-anak. Pasien juga didorong menurunkan berat badannya agar gejala berkurang
- Agens antisekretorik yang dijual bebas bisa membantu kasus ringan
- Intervensi pembedahan bisa diperlukan untuk mengontrol gejala parah dan sukar disembuhkan, misalnya aspirasi pulmoner, hemoragi, obstruksi, nyeri parah, perforasi, LES inkompeten, dan hernia hiatal yang berkaitan. Prosedur pembedahan meliputi pembedahan antirefluks yang membungkus fundus disekitar esofagus (fundoplikasi). Selain itu vagotomi atau piloroplasti bisa dikombinasikan dengan pengobatan antirefluks untuk memodifikasi konten gastrik.

Info artikel menarik lain silahkan baca Penyakit Gastroenteritis, sedang untuk info alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gastroenteritis

Gastroenteritis yang juga disebut sebagai flu intestinal, diare pelancong, enteritis viral maupun keracunan makanan, merupakan gangguan yang bersifat elf-limiting (bisa sembuh tanpa banyak intervensi) dan ditandai dengan diare, mual, muntah, dan kram abdominal. Gastroenteritis muncul disemua kelompok usia dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara yang belum berkembang.
Gastroenteritis juga bisa membahayakan nyawa pada anak-anak, lansia dan orang yang mengalami kelemahan akibat ketidakmampuan mereka menoleransi kehilangan elektrolit dan cairan.


Penyakit Pencernaan

Penyebab Gastroenteritis
- Ameba : terutama entamoeba histolytica
- Bakteri (menyebabkan keracunan makanan akut) : staphylococcus aureus, salmonella, shigela, clostridium botulinum, escherichia coli, clostridium perfringens
- Reaksi obat : antibiotik
- Defisiensi enzim
- Alergen makanan
- Tercernanya toksin : tumbuhan atau jamur payung (cendawan)
- Parasit : ascaris, enterobius, trichinella spiralis
- Virus (bisa menyebabkan diare pelancong) : adenovirus, echovirus, rotovirus, calcivirus, astrovirus, norovirus, atau coxsackievirus

Tanda dan Gejala Gastroenteritis
- Ketidaknyamanan di abdomen (berkisar dari kram sampai nyeri)
- Borborigmus
- Hipermotilitas usus
- Diare
- Demam
- Penghabisan cairan intraselular
- Tidak enak badan
- Mual dan muntah

Uji Diagnostik
- Studi laboratiris, misalnya pewarnaan gram, kultur darah, dan sampel tinja, mengidentifikasi bakteri, parasit atau ameba penyebab

Tindakan Penanganan
- Beri dukungan emosional dan tingkatkan asupan cairan
- Penggantian cairan dan elektrolit diperlukan jika gejala parah dan berlangsung lebih dari 3 sampai 4 hari pada anak kecil, lansia
- Antibiotik menangani infeksi penyebab
- Antiemetik digunakan untuk mengontrol mual dan muntah.

Info artikel menarik lain silahkan baca Penyakit Gastritis (Peradangan Lambung), sedang untuk info alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gastritis (Peradangan Lambung)

Gastritis (Peradangan Lambung) merupakan inflamasi mukosa gastrik dan bisa akut maupun kronis. Gastritis akut menyebabkan pemerahan, edema, hemoragi dan erosi mukosal. Gastritis kronis umumnya terjadi diantara lansia dan penderita anemia berat. Gastritis kronis umumnya muncul sebagai gastritis atrofik kronis yang menyebabkan semua lapisan mukosal terinflamasi disertai berkurangnya sel utama dan sel parietal.


Penyakit Pencernaan

Penyebab Gastritis (Peradangan Lambung)
Gastritis Akut
- Tercernanya makanan yang menyebabkan iritasi secara kronis, misalnya merica pedas
- Obat (aspirin, obat anti inflamatorik nonsteroidal, alkohol, kafein, kortikosteroid)
- Endotoksin yang dilepaskan dari bakteri penginfeksi (stafilokokus, escherichia coli, dan salmonella)
- Infeksi helicobacter pylori atau oleh organisme penginfeksi akut lainnya
- Tercernanya racun

Gastritis Atrofik Kronis
- Faktor autoimun : paling banyak ditemukan di badan lambung (tipe A)
- Refluks kronis sekresi pankreatik, empedu dan asam empedu duodenum ke dalam lambung (sebagai contoh jika terjadi penyakit ulser peptik atau jika pasien menjalani gastrostomi)
- H.pylori paling banyak ditemukan di bagian antral lambung (tipe B)
- Paparan berulang substansi yang menyebabkan iritasi (obat, alkohol, dan asap rokok)

Tanda dan Gejala Gastritis (Peradangan Lambung)
Gastritis Akut
- Anoreksia
- Kram
- Ketidaknyamanan epigastrik
- Indigesti
- Mual, muntah dan hematemesis

Gastritis Kronis
- Mirip dengan tanda dan gejala gastritis akut atau nyeri epigastrik ringan

Gastritis Erosif
- Anoreksia
- Nyeri epigastrik
- Melena
- Mual dan muntah

Uji Diagnostik
- Uji darah fekal tersembunyi mendeteksi darah yang tersembunyi dalam vomitus dan tinja pasien yang mengalami pendarahan gastrik
- Kadar hemoglobin dan hematokrit rendah jika pasien mengalami pendarahan signifikan
- Endoskopi GI atas dengan biopsi memastikan diagnosis jika dilakukan dalam 24 jam setelah pendarahan. Biopsi memperlihatkan proses inflamatorik. Rangkaian GI atas juga bisa dilakukan untuk mencegah lesi serius. Endoskopi atas tidak boleh dilakukan setelah pasien mencerna agens korosif

Tindakan Penanganan
- Antibiotik diberikan untuk menangani infeksi H.pylori jika pasien mengalami gangguan imun
- Antagonis respetor histamin-2 misalnya cimetidine (tagamet), ranitidine (zantac) atau famotidine (pepcid) bisa menghalangi sekresi gastrik
- Antasid bisa digunakan sebagai tenaga penyangga (buffer)
- Analgesik bisa diberikan untuk nyeri yang berkaitan
- Lakukan penggantian cairan dan elektrolit seperlunya
- Vagotomi dan piloroplasti bisa berhasil secara terbatas jika penanganan konservatif gagal
- Gastrektomi parsial atau lokal bisa dibutuhkan (jarang)
- Vitamin B12 bisa diberikan secara parenteral (jika penyebabnya adalah anemia berat).

Info artikel menarik lain silahkan baca penyakit Kanker Gastrik (Gastric Cancer), sedang untuk info alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gastric Cancer (Kanker Gastrik)

Kanker Gastrik (Gastric Cancer) umum terjadi di seluruh dunia dan di semua ras. Akan tetapi insidensinya dipengaruhi oleh perbedaan geografis dan budaya yang tidak bisa dijelaskan; sebagai contoh, mortalitas tinggi ada di jepang, islandia, cili dan austria. Di amerika serikat insidensi telah berkurang 50% selama 25 tahun terakhir. Berkurangnya insidensi kanker gastrik di amerika dianggap berkaitan dengan berkurangnya makanan yang di asini dan di asapi, pendinginan yang mengurangi jumlah bakteri penghasil nitrat dalam makanan, dan tingginya asupan vitamin C.
Insidensi Kanker Gastrik paling tinggi pada pria yang berusia lebih dari 40 tahun. Prognosisnya tergantung pada stadium penyakit saat di diagnosis. secara keseluruhan tingkat ketahanan hidup selama 5 tahun adalah 15%.
Menurut tampilan kasarnya Kanker Gastrik bisa diklasifikasikan sebagai polipoid, ulserasi, dan infiltrasi atau difusi. Bagian lambung yang diserang Kanker Gastrik bila frekuensinya di urutkan secara menurun adalah pilorus dan antrum (50%), kurvatur yang lebih kecil (25%), kardia (10%), badan lambung (10%), dan kurvatur yang lebih besar (2% sampai 3%).
Kanker Gastrik bermetastasis cepat ke nodus limfa regional, omentum, hati dan paru-paru dengan rute-rute sebagai berikut : Dinding lambung, duodenum, esofagus; sistem limfatik; organ yang berdekatan; aliran darah; dan rongga peritoneal.


Penyakit Pencernaan

Penyebab Kanker Gastrik

- Tidak diketahui
- Umumnya berkaitan dengan gastritis, inflamasi lambung kronis, ulser gastrik, bakteri helicobacter pylori, dan atrofi gastrik.

Faktor Predisposisi :

- Faktor makanan : beberapa metode penyediaan dan penyimpanan makanan (terutama pengasapan, pengasaman, dan pengasinan) serta sifat fisik beberapa makanan
- Pengaruh lingkungan, misalnya merokok dan tingginya asupan alkohol
- Genetik (faktor keturunan)
- Memiliki golongan darah A (resiko meningkat sebesar 10%)

Tanda dan Gejala Kanker Gastrik

- Distensi abdominal
- Dispepsia kronis
- Ketidaknyamanan gastrik kronis
- Gejala awal : disfagia (jika terjadi kanker kardia), darah di tinja
- Gejala selanjutnya : muntah, berat badan turun, anoreksia, merasa penuh setelah makan, anemia, dan letih.

Uji Diagnostik

- Sinar-X barium pada traktus GI, dengan fluoroskopi menunjukkan tumor atau kelainan pengisian yang terlihat di gambaran lambung, hilangnya fleksibilitas dan distensibilitas, dan mukosa gastrik abnormal dengan atau tanpa ulserasi
- Gastroskopi dengan endoskopi serat-optik membantu menyingkirkan keabnormalan mukosal gastrik difusi lain dengan menyediakan visualisasi langsung dan biopsi gastroskopis untuk mengevaluasi lesi mukosal gastrik
- Endoskopi untuk biopsi dan pencucian sitologis dan fotografi dengan endoskopi serat-optik memberikan catatan permanen mengenai lesi gastrik yang nantinya bisa digunakan untuk menentukan perkembangan penyakit dan efek penanganan
- Uji stimulasi asam gastrik memperlihatkan apakah lambung mensekresi asam dengan benar atau tidak
- Studi yang bisa menyingkirkan metastasis ke organ khusus antara lain : CT-Scan, sinar-X dada, Scan hati dan tulang, dan biopsi hati.

Tindakan Penanganan

- Pembedahan umumnya merupakan pilihan penanganan. Eksisi lesi dengan marjin yang sesuai bisa dilakukan pada lebih dari sepertiga pasien. Walaupun penyakitnya dianggap tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, pasien bisa menjalani reseksi yang memungkinkan paliasi dan bisa lebih memanfaatkan kemoterapi dan terapi radiasi. Prosedur pembedahan umum meliputi gastrektomi subtotal dan gastrektomi total.
- Jika Kanker Gastrik melibatkan pilorus dan antrum, gastrektomi akan membuang lambung bawah dan duodenum (gastrojejunostomi atau billroth II), jika terjadi metastasis omentum dan limpa mungkin juga harus dibuang
- Jika Kanker Gastrik telah menyebar ke hati, peritoneum, atau kelenjar limfa, pembedahan paliatif bisa meliputi gastronomi, jejunostomi, atau gastrektomi total atau subtotal. Pembedahan semacam ini bisa meredakan muntah, mual, nyeri dan disfagia untuk sementara saat nutrisi enteral sedang diberikan.
- Kemoterapi untuk Kanker Gastrik bisa membantu mengontrol gejala dan memperpanjang waktu bertahan hidup
- Antiemetik bisa mengontrol mual yang semakin parah saat kanker semakin berat
- Terapi radiasi sangat berguna jika dikombinasikan dengan kemoterapi untuk pasien yang menderita penyakit yang tidak bisa di reseksi maupun bisa di reseksi secara parsial
- Antispasmodik dan antasid bisa membantu meringankan distres GI.

Info artikel menarik lain silahkan baca Kanker Kantung Empedu & Saluran Empedu (Gallbladder & Bile Duct Cancers), sedang untuk info alat kedokteran dan alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

Gallbladder & Bile Duct Cancers (Kanker Kantung Empedu & Saluran Empedu)

Kanker Kantung Empedu merupakan kanker langka yang mencakup kurang dari 1% dari semua kasus kanker. Kanker Kantung Empedu biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada pasien kolesistitis. Prevalensi penyakit ini paling tinggi pada wanita yang berusia lebih dari 60 tahun. Kanker Kantung Empedu berkembang sangat cepat dan biasanya berakibat fatal, pasien jarang bisa hidup lebih dari 1 tahun setelah di diagnosis. Prognosisnya buruk karena terlambat di diagnosisl, Kanker Kantung Empedu biasanya tidak di diagnosis sampai setelah pasien menjalani kolesistektomi dan biasanya sudah memasuki stadium atas dan metastatik.
Kanker Saluran Empedu ekstrahepatik menyebabkan sekitar 3% kematian akibat kanker ini. Kanker Saluran Empedu muncul pada pria dan wanita yang berusia antara 60 sampai 70 tahun (insidensinya sedikit lebih tinggi pada pria). Tempat yang biasa diserang adalah bifurkasi di saluran umum.
Umumnya pemeriksa dibingungkan antara kanker di ujung distal saluran umum dengan kanker pankreatik. Secara khas, metastasis terjadi di nodus limfa lokal dan di hati, paru-paru, dan peritoneum. Metastasis nodus limfa terjadi di hampir 70% pasien saat di diagnosis. Perluasan langsung ke hati umum terjadi (menyerang sampai 90% pasien); perluasan langsung ke sistik dan saluran empedu umum, dan ke lambung, kolon, duodenum, dan jejunum menyebabkan obstruksi. Metastasis juga terjadi melalui vena portal atau hepatik ke peritoneum, ovarium, dan lobus paru-paru bawah.


Dunia Alat Kedokteran

Penyebab Kanker Kantung Empedu & Saluran Empedu

- Adenokarsinoma (85% sampai 95% kasus)
- Kanker saluran empedu ekstrahepatik (tidak diketahui)
- Batu empedu
- Tipe jaringan capuran (jarang)
- Karsinoma sel skuama (5% sampai 15% kasus)

Tanda dan Gejala

* Kanker Kantung Empedu
- Tanda dan gejala identik dengan tanda gejal kolesistitis
- Distensi abdominal
- Anoreksia, mual, dan muntah
- Hepatosplenomegali (pada beberapa pasien)
- Sakit kuning
- Nyeri di epigastrum atau kuadran kanan atas
- Kantung empedu palpabel
- Berat badan turun

* Kanker Saluran Empedu

- Tinja berwarna hitam dan seperti ter
- Menggigil dan demam (jika terjadi kolesistitis)
- Nyeri kronis di epigastrum atau kuadran kanan atas dan memancar ke punggung
- Sakit kuning progresif dan berat (tanda pertama obstruksi)
- Pruritus dan ekskoriasi kulit

Uji Diagnostik Kanker Kantung Empedu & Saluran Empedu

* Kanker Kantung Empedu
- Uji fungsi hati biasanya memperlihatkan kenaikan kadar bilirubin serum, empedu dan bilirubin urin, dan urobilinogen pada lebih dari 50% pasien yang menderita kanker kantung empedu. Pasien ini juga mengalmi kenaikan alkalin fosfatase serum secara konsisten
- Scan hati-limpa mendeteksi keabnormalan
- Kolesistrogafi bisa menunjukkan batu atau kalsifikasi (kantung empedu porselen)
- Alat MRI bisa menunjukkan area pertumbuhan tumor
- Kolangiografi bisa menguraikan obstruksi saluran empedu.

* Kanker Saluran Empedu

- Hasil uji fungsi hati menunjukkan kenaikan kadar bilirubin (5 sampai 30 mg/dl), alkalin fosfatase, dan kolesterol darah disertai waktu protombin yang berlangsung lama memastikan obstruksi bilier
- Pankreatografi retrograd endoskopis mengidentifikasi tempat tumor dan membuat akses untuk mendapatkan specimen biopsi.

Tindakan Penanganan

- Pembedahan paliatif bisa meliputi kolisistektomi, eksplorasi saluran empedu biasa, drainase pipa-T, dan eksisi baji pada jaringan hepatik
- Pembedahan untuk meringankan obstruksi dan sakit kuning yang disebabkan oleh Kanker Saluran Empedu ekstrahepatik bisa meliputi kolesistoduodenostomi dan drainase pipa-T saluran empedu umum, tergantung tempat terjadinya kanker
- Tindakan paliatif lain bagi kedua jenis kanker meliputi terapi radiasi, implan radiasi (paling banyak digunakan untuk rekurensi lokal dan insisional) dan kemoterapi (tidak sering digunakan).

Info artikel menarik lain silahkan baca Folikulitis, Furunkulosis, & Karbunkulosis (Furuculitis, Furunculosis, & Carbun Culosis), sedang untuk info alat kedokteran & alat kesehatan silahkan kunjungi www.duniaalatkedokteran.com.

 

Info PROPERTI

Info Alat Kedokteran

Peluang Bisnis!

Peluang Bisnis Kuliner Jepang MAU?
OTAYAKIMU | Spesialis Okonomiyaki & Takoyaki

Mengajak anda bergabung bersama kami untuk menjadi mitra kami.

Info Mitra / Waralaba :

Pin.5B28812B
Hp.081210707041
Email : Otayaki@yahoo.com
Twitter : @otayakimu
Website : www.otayaki.com/p/info-kerjasama.html