SEPUTAR INFO PENYAKIT DAN INFO KESEHATAN

 
Tampilkan postingan dengan label Kategori A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kategori A. Tampilkan semua postingan

Avian Influenza


Avian Influenza

Avian Influenza merupakan infeksi flu pada burung, namun bisa menyerang manusia yang tidak memiliki imunitas terhadapnya. Virus ini bisa bermutasi dengan mudah menginfeksi manusia dan berpotensi memulai epidemik mematikan yang menyebar ke seluruh dunia.
Virus avian influenza yang sangat menular, misalnya H5N1 bisa bertahan hidup di lingkungan dalam waktu lama dan infeksi bisa disebarkan hanya dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi. Burung yang sembuh dari flu masih bisa menularkan virus lewat feses dan salivanya selama 10 hari.
Virus avian influenza pertama yang langsung menginfeksi manusia muncul di hongkong pada tahun 1997 dan sejak itu menyebar ke penjuru asia. Pada oktober 2005, virus ini ditemukan di turki dan rumania. Lebih dari 161 orang telah terinfeksi oleh avian influenza virus A yaitu flu burung, yang dinamakan H5N1 dan saat ini tingkat kematian akibat infeksi yang dipastikan adalah lebih dari 50%. Avian flu H7N7 muncul di belanda, menyebabkan 89 orang dipastikan terinfeksi namun hanya satu yang meninggal.
Avian flu H9N2 menginfeksi tiga anak di asia dan ketiganya sembuh. Prognosisnya tergantung pada keparahan infeksi dan tipe virus avian influenza yang menyebabkannya.



Penyebab Avian Influenza
Infeksi virus oleh H5N1. Orang-orang yang beresiko terkena infeksi adalah :
- Peternak dan siapapun yang bekerja berhubungan dengan unggas.
- Pekerja perawatan kesehatan dan anggota keluarga yang bersentuhan dengan penderita avian influenza
- Orang yang memakan daging unggas mentah atau tidak matang.
- Orang yang memegang burung yang terinfeksi
- Pelancong yang mengunjungi negara yang diserang

Tanda dan Gejala Avian Influenza
Gejala infeksi avian influenza pada manusia tergantung pada suku virus tertentu. pada virus H5N1 infeksinya menyebabkan gejala yang mirip dengan flu klasik yang meliputi :
- Sakit kepala
- Tidak enak badan
- Batuk (kering atau produktif)
- Sakit tenggorokan
- Suhu tubuh lebih dari 100,4 derajat fahrenheit.
- Ingusan
- Sulit bernapas
- Diare
- Nyeri otot
- Komplikasi antara lain pneumonia, distres, respiratorik akut, sepsis, dan gagal organ.

Uji Diagnostik Avian Influenza
- Influenza A/H5 (keturunan asia) virus real-time RT-PCR primer dan probe set bisa memberikan hasil permulaan dalam waktu 4 jam, sedangkan uji yang lama membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari.
- Hasil pada sinar-X dada, kultur nasofaringeal dan diferensial darah juga membantu memastikan diagnosis.

Tindakan Penanganan pada Avian Influenza
- Medikasi anti virus oseltamivir (Tamiflu), dan bisa juga zanamivir (Relenza), bisa mengurangi keparahan penyakit, jika mulai diberikan 48 jam setelah gejala mulai terlihat.
- Oseltamivir juga bisa diberikan untuk anggota keluarga yang bersentuhan dengan orang yang terdiagnosis avian flu.
- Penanganan suportif dengan ventilasi mekanis, cairan I.V. dan penanganan simtomatik bisa dilakukan.
- Orang yang di diagnosis terinfeksi H5N1 sebaiknya di isolasi
- Saat ini tidak ada vaksin yang bisa melawan avian influenza, namun vaksin yang melawan H5N2 sedang di uji dalam percobaan klinis.
- Suntikan influenza (flu) sebaiknya diberikan untuk mengurangi peluang virus avian flu bercampur dengan virus flu manusia, yang akan menciptakan virus baru yang mungkin akan tersebar dengan mudah.

Informasi Seputar Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Atelektasis (Atelectasis)


Tindakan Penanganan Pada Penyakit Atelektasis (Atelectasis)

Atelektasis (Atelectasis) merupakan ekspansi tidak menyeluruh pada lobula (kluster alveoli) atau segmen paru-paru yang bisa menyebabkan kolaps paru-paru parsial atau menyeluruh. Area yang kolaps tidak bisa melakukan pertukaran gas; darah yang tidak teroksigenasi akan melewati area yang tidak bisa melakukan pertukaran ini, sehingga menyebabkan hipoksia. 
Atelektasis bisa kronis maupun akut dan muncul dalam beberapa derajat pada banyak pasien yang sedang menjalani pembedahan abdominal atas atau toraks. Prognosisnya tergantung pada pembuangan obstruksi jalan napas maupun secara cepat dan tepat, peringanan hipoksia dan ekspansi kembali pada paru-paru yang kolaps.



Penyebab Atelektasis
- Oklusi bronkial oleh penyumbatan mukus, seperti pada penderita penyakit obstruktif kronis, bronkiektasis atau fibrosis sistik dan perokok berat.
- Karsinoma bronkiogenik
- Depresi sistem saraf pusat (seperti pada overdosis obat)
- Kondisi yang membuat bernafas dalam terasa menyakitkan (fraktur rusuk, insisi abdominal atas dan nyeri dada pleuritik).
- Kompresi eksternal yang menghalangi ekspansi paru-paru secara menyeluruh (pakaian ketat, obesitas).
- Penyakit paru-paru inflamatorik
- Ventilasi mekanis yang menggunakan volume tidal kecil konstan tanpa bernapas dalam secara intermitten.
- Oklusi oleh benda asing
- Toksisitas oksigen
- Imobilitas dalam waktu lama, sehingga ventilasi hanya terjadi di satu area paru-paru
- Edema pulmoner
- Sindrom distres respiratorik pada neonatus (penyakit membran hialin)

Tanda dan Gejala Atelektasis
- Resah
- Auskultasi yang memperlihatkan bunyi napas bronkial atau melemah
- Hiper inflasi pengimbang pada area paru-paru yang tidak diserang
- Sianosis
- Diaforesis
- Dispnea
- Kenaikan hemidiafragma ipsilateral
- Pergeseran mediastinal menuju sisi yang di serang
- Perkusi menunjukkan bunyi pendek dan lemah (jika banyak paru-paru yang kolaps)
- Kolaps sirkulasi periferal
- Retraksi sunsternal atau interkostal
- Takikardia

Uji Diagnostik Atelektasis
- Area intensif "mikroatelektasis" bisa muncul tanpa keabnormalan sinar-x pada dada. Pada atelektasis yang menyebar luas, sinar-x dada menunjukkan garis horisontal yang khas di zona paru-paru bawah dan jika pasien mengalami kolaps segmental atau lobar, maka akan muncul bayangan tebal yang khas yang umumnya berkaitan dengan hiperinflasi zona paru-paru yang berdekatan
- Computed tomography dada digunakan untuk memastikan temuan
- Jika penyebab tidak diketahui, bronkoskopi dilakukan untuk menyingkirkan neoplasma atau benda asing yang menghalangi.

Tindakan Penanganan pada Atelektasis
- Spirometri insentif, perkusi dada, drainase postural dan sering melakukan latihan batuk dan bernapas dalam meningkatkan oksigenasi.
- Bronkoskopi bisa membantu membuang sekresi
- Kelembaban dan bronkodilator bisa membantu pembersihan mukosiliari dan membuat jalan napas berdilasi dan bisa digunakan dengan nebulyzer.
- Atelektasis yang mengikuti neoplasma yang menyebabkan obstruksi bisa membutuhkan pembedahan atau terapi radiasi.
- Pasien yang sudah menjalani pembedahan toraks dan abdominal membutuhkan analgesik untuk mempermudah bernapas dalam, sehingga meminimalkan resiko atelektasis.

Informasi Seputar Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk info bisnis masakan Jepang Okonomiyaki & Takoyaki pelajari info detailnya DISINI.

Asfiksia (Asphyxia)


Tanda Dan Gejala Asfiksia (Asphyxia)

Asfiksia (Asphyxia) merupakan kondisi insufisiensi oksigen dan terakumulasinya karbondioksida dalam darah dan jaringan akibat gangguan respirasi dan menyebabkan penghalangan (arrest) kardiopulmoner. Penyakit asfiksia bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.



Penyebab Asfiksia (Asphyxia)
Kondisi atau substansi yang menghalangi respirasi :
- Obstruksi ekstrapulmoner, seperti pada kompresi trakeal akibat tumor, strangulasi, trauma atau sesak napas
- Hipoventilasi akibat penyalahgunaan opioid, penyakit atau hemoragi medular, pneumotoraks, paralisis otot respiratorik, atau penghalangan kardiopulmoner.
- Inhalasi agens toksik, seperti pada keracunan karbon monoksida, inhalasi asap dan inhalasi oksigen berlebihan.
- Obstruksi intrapulmoner, seperti pada obstruksi jalan napas, asma parah, aspirasi benda asing dan hampir tenggelam.

Tanda Dan Gejala Asfiksia (Asphyxia)
- Agitasi dan konfusi yang menyebabkan koma
- Tingkat respiratorik yang berubah (apnea, bradipnea, atau takipnea berkala)
- Resah
- Sianosis pusat dan periferal (selaput lendir berwarna merah-ceri ketika keracunan karbon monoksida mencapai stadium lanjut)
- Bunyi napas yang berkurang
- Dispnea
- Denyut nadi cepat, lambat atau hilang
- Sawan

Uji Diagnostik Asfiksia (Asphyxia)
- Analisis gas darah arterial mengindikasikan penurunan tekanan parsial oksigen arterial (kurang dari 60 mm Hg) dan kenaikan tekanan parsial karbon dioksida (lebih dari 50 mm Hg)
- Sinar X dada bisa menunjukkan benda asing, edema pulmoner atau atelektasis
- Uji toksikologi bisa menunjukkan obat atau zat kimiawi
- Jumlah darah lengkap bisa mendeteksi kadar hemoglobin abnormal
- Uji fungsi pulmoner bisa mengindikasikan adanya pelemahan otot respiratorik

Tindakan Penanganan
- Segera beri bantuan respiratorik dengan resusitasi kardiopulmoner, intubasi endotrakeal, dan oksigen suplemental seperlunya. Kemudian lakukan penanganan pada penyebabnya, misal :
- Bronkoskopi untuk mengeluarkan benda asing
- Antagonis opioid, misalnya naloxone (narcan) untuk overdosis opioid
- Lavase gastrik untuk keracunan
- Penggunaan oksigen yang terbatas dan bertahap untuk narkosis karbon dioksida akibat terapi oksigen berlebihan.

Informasi Seputar Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk info bisnis masakan Jepang Okonomiyaki & Takoyaki pelajari info detailnya DISINI.

Aspergilosis


Penyakit Aspergilosis

Penyakit Aspergilosis merupakan infeksi oportunistik yang kadang-kadang bisa mengancam jiwa, disebabkan oleh fungus dari genus aspergillus, biasanya a.fumigatus, a.flavus atau a.niger.
Penyakit Aspergilosis hanya menyebabkan infeksi pada orang yang mudah terkena penyakit, misalnya orang yang diberi antibiotik, glukokortikoid atau imunosupresan lain dalam waktu yang lama; akibat radiasi; akibat kondisi misalnya AIDS, penyakit Hodgkin, leukemia, azotemia, alkoholisme, sarkoidosis, bronkitis, atau bronkiektasis; dari transplan organ dan (pada aspergiloma) akibat tuberkulosis atau penyakit paru-paru kavitari lainnya.



Penyakit Aspergilosis muncul dalam bentuk utama yaitu :
- Aspergiloma, yang menyebabkan bola fungus dalam paru-paru (disebut miketoma)
- Aspergilosis alergis, yaitu reaksi asmatik hipertensif terhadap antigen Aspergillus
- Aspergilosis endoftalmitis, yaitu infeksi di ruang anterior dan posterior mata yang bisa menyebabkan kebutaan
- Aspergilosis terdiseminasi, yaitu infeksi akut yang menyebabkan septisemia, trombosis, dan infarksi pada organ yang terlihat, terutama di jantung, paru-paru, otak dan ginjal.

Aspergillus bisa menyebabkan infeksi telinga (otomikosis), kornea (keratitis mikotik), atau katup jantung prostetik (endokarditis), pneumonia (terutama penderita yang diberi imunosupresan, misalnya obat antineoplastik atau terapi steroid dosis tinggi), sinusistis; dan abses otak.
Prognosisnya bervariasi pada tiap bentuk, kadang-kadang aspergiloma menyebabkan hemoptisis fatal.

Penyebab Aspergilosis
- Aspergillus, umumnya ditemukan di tumpukan kompos yang berfermentasi dan jerami lembab, ditularkan melalui inhalasi spora fungus atau di aspergilosis endoftalmitis, dengan masuknya spora melalui luka atau cedera jaringan lain.

Tanda Dan Gejala Aspergilosis
- Kolonisasi aspergillus di pohon bronkial yang menimbulkan sumbatan atelektasis dan membentuk bola kusut hifae (filamen fungal), fibrin dan eksudat di rongga yang ditinggalkan oleh penyakit sebelumnya, misalnya tuberkulosis (TBC). Penyakit ini tidak menunjukkan gejala atau gejalanya menyerupai gejala TBC (batuk produktif dan sputum purulen atau berwarna darah, dispnea, empiema, dan abses paru-paru)
- Aspergilosis alergis; suara menciut, dispnea, batuk yang memproduksi sputum, nyeri pleural dan demam
- Aspergilosis endoftalmitis (2 sampai 3 minggu setelah cedera mata atau pembedahan); pandangan berawan, nyeri mata, dan konjungtiva memerah. setelah infeksi ruang anterior dan posterior, pasien menunjukkan tanda eksudat purulen.
- Aspergilosis terdiseminasi; trombosis, infarksi, dan tanda gejala khas septisemia (misalnya menggigil, demam, hipotensi, dan delirium), disertai azotemia, hematuria, obstruksi traktus kencing, sakit kepala, sawan, nyeri dan perih pada tulang dan bengkak jaringan lunak. Penyakit ini berakibat fatal dengan cepat.

Uji Diagnostik Aspergilosis
- Untuk penderita aspergiloma, sinar-X dada memperlihatkan radiolusensi berbentuk sabit yang mengelilingi gumpalan sirkular, namun uji ini tidak bisa menentukan adanya aspergilosis.
- Untuk penderita aspergilosis endoftalmitis, riwayat trauma okular atau pembedahan dan kultur atau eksudat yang menunjukkan adanya aspergillus bisa mendukung diagnosis.
- Untuk penderita aspergilosis alergis, pemeriksaan sputum menunjukkan eosinofil.
- Kultur pengerikan mulut atau sputum yang menunjukkan aspergillus tidak bisa memastikan adanya penyakit, karena orang sehatpun bisa membawa fungus ini.
- Untuk penderita aspergilosis terdiseminasi, kultur dan pemeriksaan mikroskopis pada jaringan yang diserang bisa memastikan diagnosis, namun bentuk ini biasanya di diagnosis pada autopsi.

Tindakan Penanganan Penyakit Aspergilosis
- Pasien aspergilosis tidak harus di isolasi
- Penanganan aspergilosis membutuhkan eksisi lokal pada lesi dan terapi suportif, misalnya fisioterapi dada dan batuk, untuk meningkatkan fungsi pulmoner. Penderita hemoptisis parah akibat bola fungus di paru-paru bisa memanfaatkan lobektomi.
- Aspergilosis alergis membutuhkan desensitisasi dan kemungkinan steroid.
- Aspergilosis terdiseminasi dan aspergilosis endoftalmitis membutuhkan rangkaian amphotericin fungizone I.V selama 2 sampai 3 minggu (dan juga penghentian terapi imunosupresan secara cepat dan tepat).

Informasi Seputar Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Askariasis (Ascariasis)


Penyebab Askariasis (Ascariasis)

Askariasis (Ascariasis) juga dikenal sebagai infeksi cacing gelang yang disebabkan oleh cacing parasit Ascaris lumbricoides. Setelah masuk ke tubuh, ova A.lumbricoides menetas dan mengeluarkan larva yang menembus dinding intestinal dan mencapai paru-paru melalui aliran darah.
Setelah sekitar 10 hari berada di kapiler dan alveoli pulmoner, larva ini bermigrasi ke bronkioli, bronki, trakea dan epiglotis. Di Kapiler larva ini tertelan dan kembali ke usus dan menjadi cacing dewasa.
Penyakit ini muncul di seluruh dunia, namun yang paling sering adalah di area tropis yang mempunyai sanitasi buruk, yang petaninya menggunakan tinja manusia sebagai pupuk. Di Amerika Serikat penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak yang berusia kurang dari 12 tahun.




Penyebab Askariasis (Ascariasis)
Ascaris lumbricoides, cacing gelang besar yang tertular dengan tercernanya tanah yang terkontaminasi tinja manusia yang mengandung ova, penularannya bisa secara langsung (dengan memakan tanah yang terkontaminasi) atau tidak langsung (dengan memakan sayuran mentah yang tumbuh di tanah yang terkontaminasi dan tidak dicuci sampai bersih dan tuntas).

Tanda Dan Gejala Askariasis (Ascariasis)
- Larva yang bermigrasi melalui sistem limfatik dan sirkulasi menyebabkan berbagai macam gejala, misalnya jika menyerang paru-paru maka pneumonitis bisa terjadi
- Tidak ada gejala yang menandakan infeksi
- Penyakit yang parah menyebabkan nyeri, muntah, gelisah, susah tidur, dan obstruksi intestinal
- Ketidaknyamanan yang samar di perut
- Memuntahkan cacing atau mengeluarkan cacing bersama tinja.




Uji Diagnostik Askariasis (Ascariasis)
- Identifikasi mikroskopis terhadap ova di tinja atau observasi cacing dewasa yang bisa dikeluarkan secara rektal atau dengan mulut, bisa memastikan diagnostik
- Ketika larva yang bermigrasi menyerang alveoli, sinar-X menunjukkan tanda khas di bronkovaskular, yaitu perembesan (infiltrasi), area pneumonitis yang berpetak dan pelebaran bayangan hilar
- Jumlah darah lengkap menunjukkan eosinofilia.

Tindakan Penanganan Askariasis (Ascariasis)
- Anthelmintic (pyrantel atau piperazine) bisa melumpuhkan cacing secara temporer sehingga memungkinkan peristalsis untuk mengeluarkannya
- Mebendazole (vermox) dan albendazole (albenza) menghalangi nutrisi cacing.

Informasi Seputar Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk info bisnis masakan Jepang Okonomiyaki & Takoyaki pelajari info detailnya DISINI.

Oklusif Arterial (Arterial Oclusive)


Penyakit Oklusif Arterial

Jika seseorang mengalami Penyakit Oklusif Arterial, obstruksi atau penyempitan lumen aorta dan cabang mayornya akan menyebabkan interupsi terhadap aliran darah, biasanya yang menuju kaki bagian atas maupun bawah. Penyakit oklusif arterial bisa menyerang arteri karotid, vertebral, innominasi, subklavian, mesentrik atau seliak. Umumnya oklusi (akut atau kronis) bisa menyebabkan iskemia, ulserasi kulit, dan gangren parah. Prognosisnya tergantung pada lokasi oklusi, perkembangan sirkulasi kolateral yang melawan berkurangnya aliran darah dan jika pasien menderita penyakit akut waktu antara oklusi dan penyembuhannya.



Penyebab Penyakit Oklusif Arterial
- Aterosklerosis
- Endogenosa, karena pembentukan embolus atau trombosis
- Eksogenosa, karena trauma atau fraktur

Faktor Predisposisi
- Penuaan
- Kondisi, misalnya hipertensi, hiperlipidermia, dan diabetes
- Riwayat gangguan vaskular, infarksi miokardial, atau stroke dalam keluarga
- Merokok

Tanda Dan Gejala Penyakit Oklusif Arterial
- Sangat bervariasi menurut tempat oklusi

Uji Diagnostik 
- Arteriografi menunjukkan tipe (trombus atau embolus), lokasi dan derajat obstruksi dan sirkulasi kolateral. Arteriografi berguna terutama pada penderita penyakit kronis atau untuk mengevaluasi kelayakan pasien untuk menjalani bedah rekostruktif.
- Ultrasonografi doppler dan pletismografi merupakan uji non invasif yang pada penyakit akut menunjukkan berkurangnya aliran darah yang distal terhadap oklusi.
- Oftalmodinamometri membantu menentukan derajat obstruksi dalam arteri karotid internal dengan memperbandingkan tekanan arteri oftalmik dengan tekanan arteri brakial pada sisi yang diserang. lebih dari 20% perbedaan antara tekanan menunjukkan insufisiensi.
- EEG dan computed tomography (CT Scan) bisa diperlukan untuk menyingkirkan lesi otak.

Penanganan Penyakit Oklusif Arterial
- Penanganan efektif tergantung pada penyebab, lokasi dan ukuran obstruksi
- Untuk penyakit yang sedikit kronis, penanganan suportifnya adalah dengan mengurangi rokok, mengontrol hipertensi dan mengikuti program berjalan kaki
- Untuk oklusi arteri karotid, terapi antiplatelet bisa dilakukan dengan dipyridamole (persantine) dan aspirin atau clopidogrel (plavix)
- Untuk klaudikasi intermitten pada penyakit oklusif kronis, pentoxifyline (trental) bisa menambah aliran darah melalui kapiler, terutama pada pasien yang hampir tidak layak menjalani pembedahan.
- Penyakit oklusif arterial akut biasanya membutuhkan pembedahan untuk mengembalikan sirkulasi ke area yang diserang. Prosedur yang bisa dilakukan antara lain embolektomi, tromboendarterektomi, grafpetak, artrektomi graf bypass.
- Terapi trombolitik dengan urokinase (abbokinase), streptokinase (streptase), atau alteplase (activase) bisa diberikan.
- Angioplasti balon akan menekan obstruksi
- Angioplasti laser bisa dilakukan (eksisi dan laser berujung panas akan menguapkan obstruksi)
- Penempatan stent akan mencegah oklusi kembali
- Semua penanganan diatas bisa dilakukan bersamaan
- Simpatektomi bisa dipertimbangkan sebagai tambahan pembedahan, tergantung pada kondisi sistem saraf simpatetik
- Amputasi bisa diperlukan jika pembedahan gagal atau terjadi perkembangan gangren, infeksi persisten atau nyeri yang susah diatasi.
- Heparin bisa diberikan untuk mencegah pembentukan embolus (untuk oklusi embolus).
- Reseksi usus dilakukan setelah pengembalian aliran darah (untuk oklusi arteri mesenterik).

Informasi Seputar Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Apendisitis


Penyakit Apendisitis (Appendicitis)

Apendisitis (Radang Usus Buntu) adalah penyakit pembedahan abdominal yang paling umum dan merupakan inflamasi apendiks vermiform akibat adanya obstruksi. Apendisitis bisa diderita oleh orang berusia berapapun dan pada jenis kelamin apapun, tetapi paling sering terjadi pada penderita yang memasuki usia pubertas sampai berusia 30 tahun. Berkat kemajuan antibiotik, insidensi dan tingkat kematian akibat apendisitis telah berkurang. Jika tidak ditangani, penyakit ini bisa berakibat fatal.



Penyebab Apendisitis
- Obstruksi di lumen intestinal karena gumpalan fekal, penyempitan, masuknya barium atau infeksi virus.

Tanda Dan Gejala Apendisitis
* Gejala Awal
- Nyeri periumbilikal atau epigastrik kolik yang tergeneralisasi maupun setempat, anoreksia, mual dan muntah
- Nyeri setempat di kuadran abdomen kanan bawah
- Rigiditas abdominal yang mirip papan
- Respirasi retraktif
- Rasa perih yang semakin menjadi
- Spasma abdominal yang semakin parah
- Rasa perih yang berbalik (rasa perih yang berlawanan dari abdomen menunjukkan adanya inflamasi peritoneal).
- Gejala yang minimal samar dan rasa perih yang ringan pada pasien berusia lanjut

* Gejala Selanjutnya
- Konstipasi (tetapi diare juga bisa terjadi)
- Suhu pasien 99 sampai 102 derajad fahrenheit
- Takikardia
- Perforasi atau infarksi apendiks yang diindikasikan oleh berhentinya nyeri abdominal secara mendadak

Uji Diagnostik
- Jumlah sel darah putih bertambah cukup banyak (12.000 sampai 20.000/ul) disertai bertambah banyaknya sel yang belum matang.
- Studi pencitraan tidak perlu dilakukan pada pasien yang mempunyai tampilan apendisitis khas.

Tindakan Penanganan
- Apendektomi merupakan satu-satunya penanganan efektif
- Jika terjadi peritonitis, penanganannya meliputi intubasi GI, penggantian parenteral cairan dan elektrolit dan pemberian antibiotik.

Info Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk info bisnis masakan Jepang Okonomiyaki & Takoyaki pelajari info detailnya DISINI.

Anemia Aplastik Dan Hipoplastik


Anemia Aplastik Dan Hipoplastik (Aplastic And Hypoplastic Anemia)

Anemia Aplastik Dan Hipoplastik terjadi akibat cedera atau obstruksi sel induk di matriks sumsum tulang, yang menyebabkan paniktropenia (anemia, granulositopenia, trombositopenia) dan hipoplasia sumsum tulang. Walaupun umumnya digunakan secara bergantian dengan istilah lain dari gagal sumsum tulang, anemia aplastik sebenarnya mengacu pada paniktopenia akibat menurunnya kapasitas fungsional dari sumsum tulang yang berlemak dan mengalami hipoplastik. Gangguan ini biasanya menyebabkan pendarahan atau infeksi fatal, terutama jika idiopatik atau berasal dari hepatitis menular. Mortalitas penderita anemia aplastik yang disertai paniktopenia akut adalah 80% sampai 90%.



Penyebab Anemia Aplastik Dan Hipoplastik
- Kongenital (anemia hipoplastik kongenital atau anemia blackfan-diamond, yang berkembang saat penderita lahir sampai berusia 10 tahun) akibat riwayat keluarga konsisten (genetik) atau akibat perubahan yang terjadi dalam perkembangan fetus.
- Kerusakan mikrovaskulatur sumsum tulang menyebabkan terbentuknya lingkungan yang tidak menguntungkan untuk pertumbuhan dan maturasi sel
- Kerusakan atau kehancuran sel induk menghambat produksi sel darah merah (red blood cell - RBC)
- Obat-obatan (antibiotik, antikonvulsan)
- Faktor imunologik (tidak bisa dipastikan)
- Infiltrasi preleukemik dan neoplastik sumsum tulang
- Radiasi
- Penyakit parah (terutama hepatitis)
- Agens toksik (misal benzene, chloramphenicol)

Tanda Dan Gejala Anemia Aplastik Dan Hipoplastik
- Ekimosis dan petekia, jika terjadi trombositopenia
- Sakit kepala
- Gagal jantung
- Neutropenia, kemungkinan menyebabkan infeksi (disertai demam, ulser oral dan rektal, dan sakit tenggorokan) namun tanpa inflamasi khas.
- Pucat
- Lemah dan letih progresif
- Sesak napas
- Takikardia
- Trombositopenia (mudah memar dan berdarah, terutama dari selaput lendir (hidung, gusi, rektum dan vaginal) atau pendarahan ke dalam retina atau sistem saraf pusat.

Uji Diagnostik
Kepastian adanya anemia aplastik membutuhkan rangkaian uji laboratoris.
- RBC biasanya normokromik dan normositik (walaupun bisa terjadi makrositosis (eritrosit yang lebih besar daripada normal) dan anisositosis (ukuran eritrosit yang terlalu bervariasi) yang jumlah totalnya 1 juta/ul atau kurang. Jumlah retikulosit absolut sangat sedikit.
- Kadar besi serum naik (kecuali terjadi pendarahan) namun kapasitas mengikat besi total normal atau sedikit berkurang. Ada hemosiderin dan penyimpanan besi jaringan bisa dilihat melalui mikroskop
- Jumlah keping darah, neutrofil dan sel darah putih berkurang
- Hasil uji koagulasi (saat pendarahan) yang menunjukkan berkurangnya jumlah keping darah, abnormal
- Aspirasi sumsum tulang dari beberapa tempat bisa menghasilkan "dry tap" dan biopsi akan menunjukkan hiposelular atau sumsum aplastik dengan jelas, dengan lemak, jaringan fibrosa, atau penggantian bergelatin yang jumlahnya bervariasi; tidak adanya zat besi yang terikat (karena zat besi terendap dihati, bukan sumsum tulang) dan megakariosit dan depresi elemen eritiroid.

Tindakan Penanganan
- Penyebab yang bisa diidentifikasi harus dieliminasi
- Beri transfusi RBC dan keping darah kemasan
- Leukosit manusia yang sesuai dengan leukosit antigen atau globulin antitimosit digunakan sendiri atau siklosporin (untuk anak-anak dan pasien yang mengalami neutropenia parah)
- Lakukan transplantasi sumsum tulang untuk aplasia parah dan bagi pasien yang membutuhkan transfusi RBC konstan
- Beri antibiotik khusus infeksi
- Beri dukungan respiratorik dengan oksigen
- Gunakan kortikosteroid untuk menstimulasi produksi eritrosit (cenderung berhasil pada anak-anak, namun tidak pada orang dewasa)
- Agens yang menstimulasi sumsum, misal androgen (yang kontroversial) bisa diberikan
- Globulin antilimfosit bisa diberikan
- Imunosupresan bisa diberikan (jika pasien tidak merespons terapi lain)
- Faktor yang menstimulasi koloni digunakan untuk mendorong pertumbuhan komponen selular khusus.

Info Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk info bisnis masakan Jepang Okonomiyaki & Takoyaki pelajari info detailnya DISINI.

Antraks


Antraks (Anthrax)

Antraks merupakan infeksi bakteri akut yang paling sering terjadi pada hewan pemakan rumput, misalnya sapi, domba, kambing, dan kuda. Penyakit antraks juga bisa menyerang manusia yang terkontak dengan binatang yang terkontaminasi baik melalui kulit, tulang, bulu, rambut binatang itu.
Antraks juga digunakan sebagai agens untuk bioterorisme dan perang biologi. Infeksi antraks ada diseluruh dunia, namun paling sering muncul di negara berkembang. Pada manusia antraks muncul dalam tiga bentuk tergantung pada modus penularannya, yaitu kutaneus, inhalasional, dan GI.




Penyebab Terjadinya Antraks
- Bacillus anthracis, yang hidup ditanah sebagai spora dan bisa bertahan selama bertahun-tahun.
Penularan ke manusia biasanya melalui :
* Paparan atau memegang hewan atau produk hewani yang terinfeksi
* Memakan daging hewan terinfeksi yang kurang matang (antraks GI - gastro intestinal)
* Inhalasi (antraks inhalasional)
* Spora yang memasuki tubuh melalui kulit yang tergesek atau rusak (antraks kutaneus).

Tanda Dan Gejala Antraks
- Tanda dan gejala biasanya muncul dalam waktu satu sampai tujuh hari setelah paparan, namun bisa muncul dalam waktu 60 hari.
Tanda dan gejala antraks tergantung pada bentuknya yaitu :
* Antraks kutaneus : diawali dengan lesi kecil, menonjol dan gatal yang mirip dengan gigitan serangga, berkembang menjadi vesikel dalam waktu satu sampai dua hari dan akhirnya menjadi ulser kecil dan tidak terasa sakit, dengan pusat nekrotik (hitam), umumnya disertai pembesaran kelenjar limfa di area yang mengelilinginya.
Kematian yang disebabkan penyakit ini sampai dengan 20% jika tidak ditangani dan 1% jika segera ditangani.
* Antraks inhalasional : tanda dan gejala seperti flu yaitu tidak enak badan, demam, sakit kepala, mialgia, dan menggigil, yang akan berkembang menjadi kesulitan respiratori dan disertai dispnea, stridor, sakit di dada, dan sianosis, diikuti syok, biasanya fatal, bahkan jika ditangani.
* Antraks GI : inflamasi akut di traktus intestinal, disertai mual, muntah, nafsu makan berkurang, dan demam yang berkembang menjadi nyeri abdominal, muntah darah, dan diare parah; 25% sampai 60% fatal, walaupun sudah ditangani dengan baik.




Uji Diagnostik
- Antraks bisa didiagnosis melalui kultur B. anthracis di darah, lesi kulit, atau spuntum dari pasien yang terkena paparan. Selain itu antibodi khusus bisa di deteksi di dalam darah.

Tindakan Penanganan
- Antibiotik (penicilin, ciprofloxacin, dan doksisiklin) efektif melawan antraks
- Penanganan dimulai segera setelah terpapar, untuk mencegah infeksi antraks yang lebih parah.

Informasi Seputar Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Spondilitis Ankilosis


Spondilitis Ankilosis (Ankylosing Spondylitis)

Spondilitis ankilosis merupakan penyakit kronis dan biasanya progresif yang paling sering menyerang sendi sakroiliak, apofiseal, dan kostovertebral serta jaringan yang berdekatan. Umumnya penyakit ini berawal disendi sakroiliak dan perlahan-lahan berkembang ke wilayah lumbar, toraks dan servikal di tulang belakang. Deteriorasi tulang dan kartilago bisa menyebabkan pembentukan jaringan fibrosa dan akhirnya fusi antara tulang belakang dan sendi periferal.



Penyebab Spondilitis Ankilosis :
- Penyebab pastinya belum diketahui
- Kecenderungan karena faktor keturunan
- Antigen histokompatibilitas HLA-B27 (positif di lebih dari 90% penderita penyakit ini) dan kompleks imun yang bersirkulasi yang menunjukkan aktivitas imunologis.
- Infeksi

Tanda Dan Gejala Penyakit Spondilitis Ankilosos :
- Tanda dan gejala berikut ini berkembang secara tidak terduga, dan penyakit ini bisa mengarah ke remisi (mereda), eksaserbasi (kambuh) atau bertahan di stadium manapun.
  * Nyeri intermitten di punggung yang biasanya paling terasa di pagi hari atau setelah periode tidak ada aktivitas (tanda pertama).
  * Pergerakan yang kaku dan terbatas pada tulang belakang lumbar
  * Nyeri dan ekspansi dada yang terbatas akibat sendi kostovertebral diserang
  *  Artritis periferal yang melibatkan bahu, pinggul dan lutut
  * Kifosis pada stadium lanjut, akibat proses pembungkukkan badan secara kronis untuk meringankan gejala, dan deformitas pinggul dan jangkauan pergerakan (range of motion-ROM) terbatas yang berkaitan
  * Rasa perih di tempat inflamasi
  * Rasa nyeri atau perih di tempat insersi (melekatnya) tendon (entesitis), terutama tendon achilles / patelar
  * Letih, demam, dan anoreksia ringan atau berat badan turun; uveitis anterior akut unilateral; insufisiensi aortik dan kardiomegali; fibrosis pulmoner lobus atas (menyerupai tuberkulosis)
  * Komplikasi neurologis berat, misal sindrom kauda equina dan paralisis, yang bisa muncul setelah terjadi fraktur di tulang belakang servikal yang kaku atau subluksasi C1-C2

Uji Diagnostik Penyakit Spondilitis Ankilosis :
- Gejala khas, riwayat keluarga dan adanya HLA-B27 dengan kuat menunjukkan adanya spondilitis ankilosis, namun kepastian diagnosis membutuhkan temuan sinar-X yang khas sebagai berikut :
  * kekaburan marjin bertulang di sendi pada stadium awal
  * keterlibatan sakroiliak bilateral
  * sklerosis berpetak yang disertai erosi bertulang superfisial
  * badan vertebral yang akhirnya membentuk persegi
  * tulang belakang bambu, jika pasien mengalami ankilosis lengkap.

Tindakan Penanganan Penyakit Spondilitis Ankilosis :
- Tidak ada penanganan andal yang bisa menghentikan perkembangan penyakit ini, sehingga penanganannya bertujuan untuk mencegah deformitas lebih jauh
- Analgesik anti-inflamatori (indomethacin (indocin) dan sulfazalazine (azulfidine)) bisa diberikan untuk mengontrl nyeri dan inflamasi
- Keterlibatan pinggul yang parah biasanya membutuhkan penggantian pinggul dengan pembedahan
- Keterlibatan tulang belakang yang parah bisa membutuhkan esteotomi baji tulang belakang untuk memisahkan dan memposisikan vertebra kembali.

Informasi Seputar Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk info bisnis masakan Jepang Okonomiyaki & Takoyaki pelajari info detailnya DISINI.

Aneurisme Femoral Dan Popliteal


Aneurisme Femoral Dan Popliteal

Aneurisme Femoral Dan Popliteal disebabkan oleh perubahan aterosklerotik progresif yang muncul di dinding (lapisan medial) arteri periferal mayor. Pembentukan aneurismel bisa berupa fusiform (berbentuk spindel) atau sakular (seperti kantung); tipe fusiform muncul tiga kali lebih sering daripada bentuk sakular. Pembentukan bisa berupa lesi segmental tunggal atau multipel, yang dibanyak kasus menyerang kedua kaki dan bisa menyertai aneurisme arterial lain yang berada di aorta abdominal atau arteri iliak. Rangkaian klinis biasanya progresif yang berakhir dengan trombosis, embolisasi dan gangren. Pembedahan efektif sebelum komplikasi terjadi akan sangat meningkatkan prognosis.



Penyebab Aneurisme Femoral Dan Popliteal
- Aterosklerosis
- Infeksi bakteri
- Pelemahan kongenital pada dinding arterial (jarang terjadi)
- Pembedahan rekronstruktif vaskular periferal (menyebabkan aneurisme " garis sutura" yaitu gumpalan darah yang membentuk lumen kedua, juga disebut sebagai aneurisme palsu (false)
- Trauma (karena benda tumpul atau tusukan)

Tanda Dan Gejala Aneurisme Femoral Dan Popliteal
- Aneurisme popliteal yang bisa menimbulkan nyeri pada ruang popliteal, edema dan distensi venosa
- Aneurisme femoral dan popliteal yang bisa menyebabkan gejala iskemia parah pada kaki atas maupun bawah, akibat trombosit akut
- Gejala trombosis aneurisme akut, antara lain nyeri hebat, denyut nadi hilang, kaki atas maupun bawah yang menjadi berwarna dan dingin, gangren
- Hemoragi petekial distal, yang bisa berkembang dari emboli aneurisme.

Uji Diagnostik
- Jika pasien mengalami aneurisme femoral, diagnosisnya dipastikan dengan palpasi bilateral yang memperlihatkan gumpalan yang berdenyut diatas atau dibawah ligamen inguinal
- Jika telah terjadi trombosis, palpasi mendeteksi adanya gumpalan yang keras dan tidak berdenyut
- Arteriografi bisa juga mendeteksi aneurisme yang berkaitan, terutama aneurisme yang berada di aorta abdominal dan di arteri iliak
- Ultrasonografi bisa membantu dalam menentukan ukuran aneurisme femoral maupun popliteal.

Tindakan Penanganan
- Pembedahan yang membuat bypass dan merekronstruksi arteri, biasanya dengan penggantian graf vena safenonosa autogenik
- Amfutasi kaki, jika terjadi oklusi arterial yang menyebabkan iskemia dan gangren parah.

Info Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Aneurisme Ventrikular


Aneurisme Ventrikular

Aneurisme Ventrikular ditandai dengan adanya tonjolan seperti kantung (hampir selalu di ventrikel kiri) yang menyebabkan disfungsi dinding ventrikular pada 10% sampai 20% pasien setelah terjadinya infarksi miokardial (myocardial infarction-MI).
Aneurisme ventrikular bisa berkembang dalam beberapa hari setelah MI, atau bisa tertunda sampai bertahun-tahun. Aneurisme ventrikular yang tidak ditangani bisa menjadi aritmia, embolisasi sistemik, atau gagal jantung dan bisa menyebabkan kematian mendadak. Reseksi bisa meningkatkan prognosis pada pasien yang mengalami gagal jantung atau aritmia ventrikular refraktori.




Penyebab Aneurisme Ventrikular
- MI yang merusak seksi muskular besar di ventrikel kiri, nekrosis yang menipiskan dinding ventrikular menjadi lapisan tipis jaringan fibrosa, yang meregang jika terjadi tekanan intrakardiak untuk membentuk sakus non kontraktil yang terpisah (aneurisme).

Tanda Dan Gejala Aneurisme Ventrikular
- Aritmia (misal kontraksi ventrikular prematur dan takikardia ventrikular)
- Gagal jantung kronis (ditandai dengan dispnea, rasa letih, edema, dedas, ritme kencang dan distensi vena jugular)
- Disfungsi ventrikular kiri
- Palpitasi
- Edema pulmoner
- Pulsus alternans yang disertai gagal jantung sisi kiri
- Tanda dan gejala disfungsi kardiak (lemah saat mengerahkan tenaga, letih, angina)
- Embolisasi sistemik
- Tonjolan prekordial sistolik yang tampak maupun palpable

Uji Diagnostik Aneurisme Ventrikular
- Ventrikulografi kiri memperlihatkan pembesaran ventrikular kiri dengan area akinesia atau diskinesia (selama sineangiografi) dan menurunnya fungsi kardiak
- Electrokardiografi bisa menunjukkan kenaikan gelombang ST-T yang persisten setelah terjadi MI
- Sinar -X bisa menunjukkan adanya tonjolan abnormal yang mengubah kontur jantung jika aneurisme lebar, sinar-X akan normal jika aneurisme kecil
- Scan kardiologi nuklir non invasif bisa mengindikasikan tempat infarksi dan area aneurisme
- Ekokardiografi menunjukkan pergerakan abnormal pada dinding ventrikular kiri.

Penanganan Aneurisme Ventrikular
- Antiaritmik I.V.diikuti pengobatan secara oral (procaniamide, procanbid, quinidine, atau disopyramide, norpacel)
- Lakukan kardioversi
- Penanganan darurat saat terjadi gagal jantung yang disertai edema pulmoner meliputi oksigen, digoxin I.V. (lanoxin), furosemide I.V., morfin sulfat I.V., nitroprusside I.V.(nitropress), dan intubasi (bila perlu); terapi pemeliharaan meliputi nitrat oral dan inhibitor enzim pengubah angiotensin (captopril(capoten) atau enalapril (vasotel).
- Embolisasi sistemik membutuhkan terapi antikoagulasi atau embolektomi
- Takikardia ventrikular refraktori, gagal jantung, embolisasi arterial rekuren, dan angina persisten yang disertai oklusi arteri bisa membutuhkan pembedahan (aneurismektomi dengan revaskularisasi miokardial).

Info Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Aneurisme Aortik Toraks


Aneurisme Aortik Toraks

Aneurisme Aortik Toraks ditandai dengan adanya pelebaran abnormal pada bagian aorta yang naik, melintang, maupun turun. Aneurisme dibagian aorta yang naik adalah tipe yang paling sering terjadi dan biasanya berakibat fatal. Aneurisme bisa berbentuk diseksi yaitu pemisahan hemoragi pada dinding aortik, biasanya didalam lapisan medial; sekular, yaitu tonjolan berbentuk kantung pada dinding arterial, dengan leher yang sempit; atau fusiform, yaitu pembesaran berbentuk spindel yang meliputi seluruh lingkaran aortik. Beberapa aneurisme berkembang menjadi komplikasi yang serius dan akhirnya letal, misal ruptur pada aneurisme diseksi toraks yang tidak ditangani kedalam perikardium dan mengakibatkan temponade.



Penyebab Aneurisme Aortik Toraks :
- Aterosklerosis
- Gangguan kongenital, misal koarktasi aorta
- Infeksi fungus (aneurisme mikotik) pada lengkung aortik dan segmen yang menurun
- Riwayat cedera traumatik pada dada
- Hipertensi (pada aneurisme diseksi)
- Koyakan intimal di aorta naik yang menandakan aneurisme diseksi (pada 60% pasien)
- Sifilis, biasanya pada aorta turun di aorta sekitar toraks, akibat kecelakaan yang memotong aorta secara melintang (cedera akselerasi-deselerasi)
- Trauma, biasanya dibagian menurun pada aorta disekitar toraks, akibat kecelakaan yang memotong aorta secara melintang (cedera akselerasi-deselerasi)

Tanda Dan Gejala Aneurisme Aortik Toraks :
- Serangan defisit neurologis secara mendadak jika diseksi melibatkan arteri karotid
- Insufisiensi aortik
- Bradikardia
- Perbedaan pada tekanan darah antara lengan kanan dan lengan kiri
- Nyeri yang terasa parah, seperti dibor yang mengarah dan meluas sampai ke leher, bahu, punggung bawah, dan abdomen, namun jarang memancar sampai ke rahang dan lengan, lebih terasa parah disisi kanan
- Gesekan friksi perikardial akibat hemoperikardium
- Pada aneurisme dibagian menurun penderita mengalami nyeri yang tajam dan mencabik-cabik, yang biasanya dimulai secara mendadak antara tulang belikat dan bisa memancar sampai ke dada
- Pada aneurisme dibagian melintang, penderita mengalami nyeri mendadak, tajam dan mencabik-cabik yang menyebar sampai ke bahu, yang juga menyebabkan suara parau, dispnea, disfagia, dan batuk kering.
- Intensitas yang tidak sama antara denyut nadi karotid dan denyut nadi radial antara kanan dan kiri.

Uji Diagnostik :
- Aortografi, yang merupakan tes paling pasti, menunjukkan lumen aneurisme, ukuran dan lokasinya, dan lumen palsu pada aneurisme diseksi
- Elektrokardiografi membantu membedakan aneurisme toraks dengan infarksi miokardial
- Ekokardiografi bisa membantu mengidentifikasi aneurisme diseksi pada akar aneurisme
- Kadar hemoglobin bisa normal atau rendah akibat hilangnya darah karena kebocoran aneurisme
- CT scan dan MRI bisa memastikan dan menemukan lokasi aneurisme dan bisa digunakan untuk memantau perkembangannya
- Ekokardiografi transesofageal digunakan untuk mengukur aneurisme di aorta naik maupun turun.

Penanganan :
- Anti hipertensif, misal nitroprusside (Nitropress) bisa diberikan
- Inotropik negatif yang mengurangi dorongan kontraktilitas, misal propranolol (inderal), bisa diberikan
-Oksigen diberikan untuk distres respiratorik
- Opioid digunakan untuk meringankan nyeri
- Transfusi cairan dan darah secara I.V.bisa diperlukan
- Bedah yang meliputi reseksi aneurisme, mengembalikan aliran darah normal melalui penggantian graf Dacron atau teflon dan jika pasien mengalami insufisiensi katup aorta, ia bisa menjalani bedah yang juga meliputi penggantian katup aorta.

Info Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Aneurisme Serebral


Aneurisme Serebral

Penderita Aneurisme Serebral mengalami dilasi setempat pada arteri serebral yang disebabkan oleh pelemahan di dinding arterial. Bentuk yang paling sering muncul adalah aneurisme sakular (berry) yaitu tonjolan keluar berbentuk kantung di arteri serebral. Biasanya aneurisme serebral muncul di tautan lingkaran Willis yaitu anastomosis yang membentuk arteri serebral mayor dibagian dasar otak.
Biasanya aneurisme serebral mengalami ruptur sehingga menyebabkan hemoragi subaraknoid. Sekitar setengah dari semua pasien yang mengalami hemoragi araknoid akan meninggal dalam waktu singkat. Sekitar 20% pasien mengalami aneurisme multipel. Prognosisnya meningkat jika ditangani dengan cara yang baru dan lebih baik.




Penyebab Aneurisme Serebral :
- Kombinasi cacat kongenital dan proses degeneratif
- Cacat kongenital misal, dinding arterial yang lemah
- Proses degeneratif misal, hipertensi dan aterosklerosis

Tanda Dan Gejala Aneurisme Serebral :
- Pendarahan kedalam jaringan otak, sehingga menyebabkan hemiparesis, cacat hemisensorik, disfagia, dan cacat visual
- Pendarahan yang menyebabkan rigiditas nukal, nyeri di punggung dan kaki, demam, rasa gelisah, iritabilitas, kadang-kadang sawan, dan pandangan kabur.
- Komplikasi, antara lain kenaikan tekanan intrakranial (intracranial pressure-ICP), episode pendarahan kembali, vasospasma, hidrosefalus akut (akibat akumulasi abnormal cairan serebrospinal - cerebrospinal fluid (CSF)) didalam rongga kranial karena penghalangan CSF oleh darah atau adesi dan embolisme pulmoner (efek yang merugikan dari trombosis vena dalam (deep vein thrombosis - DVT) atau penanganan aneurisme).
- Jika aneurisme dekat dengan arteri karotid, penderita mengalami diplopia, ptosis, dilasi pupil dan tidak mampu merotasi mata
- Ruptur yang menyebabkan sakit kepala parah dan mendadak, mual, muntah, dan perubahan tingkat kesadaran (level of consciousness - LOC) antara lain koma yang mendalam

Uji Diagnostik :
- Computed Tomography (CT) Scan memperlihatkan darah subaraknoid atau ventrikular
- Magnetic resonance imaging (MRI) atau magnetic resonant angiography (MRA) bisa mengidentifikasi aneurisme serebral sebagai "flow void" (ketiadaan sinyal dari darah yang proton aktifnya meninggalkan wilayah sebelum magnetisasinya diukur) atau dengan rekronstruksi komputer pada pembuluh serebral
- Angiografi serebral memastikan lokasi aneurisme dan menggambarkan kondisi pembuluh
- Pungsi (penusukan) lumbar bisa dilakukan untuk mengidentifikasi darah di CSF ketika CT scan normal; prosedur ini memiliki kontra indikasi jika ada tanda kenaikan ICP.

Penanganan :
- Oksigenasi dan ventilasi merupakan penanganan darurat awal
- Perbaikan melalui pembedahan (melumpuhkan, mengikat, atau membungkus leher aneurisme dengan otot) biasanya dilakukan segera setelah kondisi pasien mengijinkannya, setelah ia mengalami pendarahan awal. jika koreksi pembedahan sangat beresiko, jika aneurisme berada dilokasi berbahaya atau jika bedah tertunda akibat vasospasma, penanganannya adalah sebagai berikut :
 * Istirahat diranjang dilingkungan yang membuat rileks (jika tidak memungkinkan dilakukan pembedahan langsung, istirahat diranjang bisa berlanjut selama 4 sampai 6 minggu).
 * Hindari kopi, stimulan dan aspirin
 * Beri codeine atau anelgesik lain seperlunya
 * Hindari konstipasi, pelunak tinja sangat penting untuk mencegah agar pasien tidak mengejan dan mengalami pendarahan karenanya.
 * Beri hydralazine atau antihipertensif lain, jika pasien mengalami hipertensi
 * Beri nimodipine, perintang saluran kalsium untuk mengurangi vasospasma pembuluh serebral
 * Beri kortikosteroid untuk mengurangi edema
 * Beri phenytoin atau antikonvulasan lain
 * Beri asam aminokaproik, sejenis inhibitor fibrinolitik, untuk meminimalkan resiko pendarahan kembali dengan menunda lisis gumpalan darah.

Info Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Aneurisme Abdominal


Aneurisme Abdominal

Penderita Aneurisme Abdominal mengalami dilasi abnormal pada dinding arterial, umumnya terjadi di aorta diantara arteri renal dan cabang iliak. Aneurisme semacam ini tujuh kali lebih sering terjadi pada pria penderita hipertensi daripada wanita penderita hipertensi, dan prevalensinya paling tinggi pada pasien berkulit putih yang berusia 50 sampai dengan 80 tahun. Lebih dari 50% penderita Aneurisme abdominal yang tidak ditangani akan meninggal dalam waktu 2 tahun setelah didiagnosis, terutama akibat hemoragi dan syok karena ruptur aneurisme; lebih dari 85% dalam waktu 5 tahun.



Penyebab :
- Arteriosklerosis atau aterosklerosis (disekitar 95% kasus)
- Nekrosis medial sistik
- Sifilis dan infeksi lain
- Trauma

Tanda Dan Gejala :
- Melemahnya denyut nadi periferal atau klaudikasi (jarang terjadi kecuali jika terjadi embolisasi)
- Hipotensi
- Nyeri lumbar yang memancar sampai kebagian samping tubuh dan pangkal paha yang bisa menandakan ruptur yang melebar dan akan terjadi
- Rasa berdebar-debar yang amat terasa diarea periumbikal
- Nyeri abdominal dan punggung yang parah dan persisten karena adanya ruptur kedalam rongga peritoneal
- Syok
- Berkeringat
- Bunyi sistolik abnormal di aorta
- Takikardia
- Pelunakan bisa terasa saat dilakukan palpasi dalam
- Rasa lemah
- Kematian

Uji Diagnostik :
- Sinar X yang menunjukkan aneurisme
- USG abdominal atau Ekokardiografi memungkinkan adanya penentuan ukuran, bentuk dan lokasi aneurisme.
- Sinar X anteroposterior dan lateral pada abdomen menggambarkan masa 75% kali
- Aortografi menunjukkan kondisi pembuluh yang proksimal dan distal terhadap aneurisme dan meluasnya aneurisme, namun biasanya tidak menunjukkan diameternya.

Penanganan :
- Reseksi dilakukan pada aneurisme dan bagian yang rusak digantikan dengan Graf Dacron yang mencegah ruptur
- Pasien asimtomatik disarankan menjalani pembedahan jika aneurisme berdiameter 5 sampai 6 cm
- Pada pasien yang mengalami perfusi yang buruk dan distal terhadap aneurismenya, graf eksternal bisa dilakukan.
- Perintang beta-adrenergik diberikan untuk memperlambat laju pertumbuhan aneurisme.

Info Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

Anafilaksis


Anafilaksis (Latin : Anaphylaxis)

Anafilaksis (reaksi Alergi) merupakan reaksi atopik yang dramatis dan tersebar luas yang ditandai dengan serangan urtikaria dan distres respiratorik mendadak dan berkembang cepat.
Reaksi anafilaktik parah bisa mempercepat kolaps vaskular, sehingga menyebabkan penderita mengalami syok sistemik dan kadang-kadang meninggal dunia.



Penyebab :
- Tercemarnya atau paparan sistemik lain terhadap obat atau substansi lain yang membuat sensitif
- Substansi yang membuat sensitif antara lain : 
  * Ekstrak alergen
  * Zat kimiawi diagnostik (natrium dehidrokolat dan media konstras radiografik)
  * Makanan (polong-polongan, kacang, berry, makanan laut, dan albumin telur)
  * Enzim (misal, L-asparaginase)
  * Hormon
  * Racun serangga (Lebah madu, wasp, bornet, yellow jacket, semut api, nyamuk dan laba-laba)
  * Anestesi lokal
  * Penisilin dan antibiotik lain
  * Polisakarida
  * Serum (biasanya serum kuda)
  * Kecanduan makanan yang mengandung sulfat
  * Sulfanomida
  * Vaksin.

Tanda-Tanda Dan Gejala :
- Angiodema
- Aritmia kardiak
- Diare
- Dispnea
- Perasaan seolah-olah akan terjadi malapetaka atau ketakutan
- Suara parau
- Hipotensi
- Edema dan kongesti mukosal nasal
- Pruritus nasal
- Mual
- Rinorea berair yang parah
- Kram perut yang parah
- Syok
- Sesak napas
- Bersin
- Stridor
- Serangan bersin mendadak
- Berkeringat
- Urgensi dan inkontinensi kencing
- Urtikaria
- Rasa lemah

Uji Diagnostik :
- Anafilaksis bisa didiagnosis melalui serangan cepat respiratorik parah atau gejala kardiovaskular akibat tercernanya atau injeksi obat, vaksin, agens diagnostik, makanan atau kecanduan makanan atau akibat sengatan serangga.

Penanganan :
- Segera injeksikan epinefrin 0,1 sampai 0,5 ml berbanding larutan air 1:1.000, ulangi tiap 5 sampai 20 menit bila diperlukan.
- Epinefrin bisa diberikan secara 1.M. atau subkutaneus, jika pasien normotensif dan belum hilang kesadaran
- Resusitasi kardiopulmoner sebaiknya dilakukan jika pasien mengalami halangan (arrest) kardiak
- Intubasi endotrakheal atau trakheotomi dan ventilasi mekanis digunakan untuk mempertahankan potensi jalan napas dan oksigenasi.
- Vasopresor, misal norepinefrin, dopamine, atau fenilefrin, bisa diberikan
- Kortikosteroid diberikan untuk meringankan inflamasi
- Difenhidramine diberikan untuk manajemen jangka panjang
- Bronkodilator misal, aminofilin secara I.V. digunakan untuk mengontrol bronkospasma
- Penambah volume, misal larutan garam normal atau albumin, diberikan untuk mendukung tekanan darah.

Info Alat Kedokteran & Kesehatan klik DISINI.

 

Info PROPERTI

Info Alat Kedokteran

Peluang Bisnis!

Peluang Bisnis Kuliner Jepang MAU?
OTAYAKIMU | Spesialis Okonomiyaki & Takoyaki

Mengajak anda bergabung bersama kami untuk menjadi mitra kami.

Info Mitra / Waralaba :

Pin.5B28812B
Hp.081210707041
Email : Otayaki@yahoo.com
Twitter : @otayakimu
Website : www.otayaki.com/p/info-kerjasama.html